sejak suami meninggal otomatis semua tanggung jawab keluarga menjadi tanggung jawab seorang ibu.dari mulai urusan mengurus rumah,mendidik anak dan mencari nafkah. Waktu itu anakku yang besar baru berusia 2,5 tahun dan yang kecil baru 10 bulan. Saat itu aku sangat terpukul, namun aku harus tetap tegar untuk menghadapi kehidupan ini.
berawal dari kepulangan aku dari tugas kantor untuk mengikuti tugas pelatihan tenaga teknis pustakawan tingkat ahli yang di selenggarakan oleh IAIN Sunan Ampel Surabaya selama 4 hari. Saat itu aku bawa 2 anakku, pembantu dan ibuku. Suamiku tinggal sendiri di rumah karena nggak mungkin kalau ikut ke Surabaya. Dari Surabaya aku langsung pulang ke rumah orang tuaku di Purworejo dan suamiku sudah menjemput aku di Purworejo juga.
Sekembalinya ke Semarang kebetulan pembantu nggak langsung ikut aku karena masih kangen dengan keluarganya, otomatis suamiku harus gantian nunggu anak-anak ketika aku pergi ke kantor. Saat itu suamiku mengeluh rasanya lemas, letih dan lesu. Kemudian dia minta aku belikan obat sakatonik liver katanya biar segar. Namun lama kelamaan ketika aku perhatikan suamiku badannya tambah kurus dan pucat. Kemudian aku ajak dia berobat tapi selalu ditolak karena nggak perlu. Dia bilang hanya istirahat yang aku butuhkan. Namun demikian tiap saat aku selalu perhatikan dia dan terakhir aku paksa untuk perikasa ke dokter. Dengan terpaksa mau dan oleh dokter dianjurkan untuk cek darah di laboratorium. Dan ternyata suamiku levernya bermasalah. Pada saat itu juga dokter menganjurkan untuk opname. Tapi suamiku orangnya anti rumah sakit, katanya nanti bisa stress. Akhirnya aku ikut aja apa kata suami. Dia minta obat jalan dan setelah satu minggu berobat dia minta pulang ke rumah orang tuany di Moga Pemalang karena disana ada orang yang bisa mengobati dan suamiku cocok.
Setelah 1 minggu aku tunggu di moga terpaksa aku pulang ke semarang dengan 2 anakku dan pembantu karena aku harus masuk kantor setelah aku ijin 1 minggu. Seminggu kemudian aku tengok dia, tapi ternyata kondisi suamiku tambah drop. Dan saat itu semua keluarga suamiku menganjurkan sekaligus memaksanya untuk dirawat di rumah sakit. Suamiku bersedia tapi harus di rawat di rumah sakit Semarang. Saat itu juga aku langsung telpon teman kantor untuk menjemput aku dan suamiku.
Tepat tanggal 8 agustus 2004 aku dan suami dengan diantar oleh orang tua dan kakaknya langsung menuju Rumah sakit tepatnya di RS Tugu Semarang. saat itu pikiranku kalut sekali karena anakku yang kecil aku ajak dan menangis terus mungkin anakku ikut merasakan sakit ayahnya. Setalah segala administrasi selesai aku pulang ke rumah untuk menjemput anakku yang besar karena ayahnya sudah kangen untuk melihatnya.
Setelah 3 hari di rawat saat itu hari rabu,dokter minta suamiku untuk USG dan ternyata hasilnya hati suamiku sudah sirosis. Terus dokter menganjurkan untuk di cek darah lagi untuk mengetahui apakah dalam hati/lever suamiku ada kanker atau tidak. Dan ternyata hasil laborat di ketahui suamiku terkena kanker hati dan sudah stadium lanjut. Saat itu pihak RS merujuk suamiku untuk masuk ICU karena saat itu suamiku sudah kehilangan kesadaran. Namun aku tolak karena aku nggak mau nanti aku nggak bisa menunggu setiap saat. Akhirnya dokter mengijinkan untuk tidak dipindah di ruang ICU. Dan pada tanggal 16 agustus 2004 jam 12.10 menit suami, ayah tercinta menghembuskan nafas untuk meninggalkan kami semua. Pagi harinya semua keluarga, tetangga dan teman kantor ikut mengantar jenazah suamiku ke Moga pemalang di tanah kelahiranny. Selamat jalan suamiku semoga engkau tenang di alam sana. AMIIN