Selasa, 25 November 2008
TIPS BUAH HATI
1. Hindari pemberian aneka label negatif kepada anak seperti "pemalas", "durhaka, "dosa, lo", "cengeng’, dan lain-lain. Itu tidak akan membuat anak jera untuk membatalkan puasanya, sebaliknya anak justru semakin tertekan dan mengikuti "label"-nya. Ingat, anak cenderung berperilaku sesuai dengan label yang diberikan.
2. Tindakan memarahi, memaksa, kekerasan, ancaman ataupun tekanan, menakut-nakuti dengan neraka dan dosa tidak akan membuat anak giat berpuasa, justru semakin membuat anak menolak puasa. Selain itu, anak juga akan melihat, ibadah agama identik dengan kekerasan dan hal-hal yang menakutkan.
3. Bangun komunikasi yang hangat dan terbuka dengan anak. Ketahui apa saja penyebab anak tidak berpuasa, apakah karena ketidakmampuan, kurangnya pembiasaan, motivasi, atau ada faktor lain seperti mencari perhatian. Siapa tahu anak tidak mau puasa karena mencari perhatian orangtuanya. Jika itu terjadi, segera luangkan waktu untuk memenuhi keinginan anak, beri juga perhatian yang cukup.
4. Bangun suasana keagamaan yang kondusif di rumah. Jelaskan apa saja nilai-nilai yang harus diamalkan, apa pula yang tidak. Lakukan hal ini dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, anak terbiasa menjalankan ritual ibadah, termasuk puasa.
5. Beri pengertian tentang pentingnya puasa. Ini dapat dilakukan lewat pembelian buku cerita yang berkaitan dengan puasa, kisah-kisah para nabi dalam bentuk disc, lalu ajak anak untuk menonton bersama. Perlihatkan dan ceritakan bagaimana perjuangan nabi saat harus berpuasa, juga buah manis yang didapat seusai berpuasa. Penanaman lewat cerita akan sangat berbekas buat anak.
6. Hari-hari pertama puasa merupakan waktu terberat bagi anak. Kehadiran orangtua di saat itu dapat membantu anak menjalani puasa dengan lebih mudah. Ambillah waktu cuti 2-3 hari atau kalau tak memungkinkan hadirlah di rumah lebih awal sebelum magrib.
7. Libatkan anak pada hal-hal menyenangkan saat berpuasa. Anak biasanya menyenangi waktu ngabuburit, aneka makanan lezat yang terhidang saat sahur atau berbuka, juga suasana ramai saat berbuka atau sahur. Agar mau berpuasa, libatkan anak pada pilihan menu berbuka/sahur, jangan bangunkan sahur dengan cara kasar, ajak anak pada aktivitas keagamaan seperti pergi Tarawih, salat subuh di masjid, dan sebagainya.
8. Lakukan puasa secara bertahap. Memang, anak usia ini seharusnya sudah mampu berpuasa secara penuh. Namun jika belum mampu, tidak ada salahnya dilakukan secara bertahap. Puasa sampai beduk zuhur dulu, kemudian asar, lalu tingkatkan hingga magrib. Biarkan saja bila dalam satu bulan masih banyak bolongnya, yang penting terus tingkatkan sehingga bolongnya berkurang atau bahkan tidak ada.
9. Semangati anak saat berpuasa. Dengan begitu, anak akan mampu berpuasa sehari penuh. Bila ada tanda-tanda anak akan berbuka tengah hari, upayakan untuk tetap bertahan dengan mengajaknya melakukan aktivitas menyenangkan, sehingga ia tak terlalu merasakan laparnya. Namun bila memang anak tidak kuat untuk bertahan, tampak sangat lemas, lemah dan pucat, bibir kering sekali, maka izinkan saja bila dia mau berbuka.
10. Jangan lupa, untuk menghargai usahanya dalam berpuasa, berapa pun lamanya. Terlebih jika anak berhasil puasa sehari penuh, beri dia pujian dan semangat untuk bisa melakukannya kembali.
Melatih Kedisiplinan Anak
Saya termasuk orang yang tertib dalam memberlakukan kebiasaan pada anak. Setiap pulang dari bepergian atau habis main dari luar, anak harus cuci kaki, tangan, dan muka, lalu ganti baju. Makan dan minum pun harus menggunakan piring dan gelas khusus milik mereka sendiri. Saya berharap dapat menanamkan disiplin dan kebiasaan yang baik sejak anak masih kecil.
Masalahnya, tanpa saya sadari, rutinitas tersebut ternyata malah membuat anak saya jadi enggak fleksibel. Suatu pagi, pernah saya membantu si kecil melepaskan pakaiannya sebelum mandi. Karena terburu-buru, saya lupa kalau selama ini dia terbiasa melepaskan celananya duluan baru kemudian bajunya. Nah, pagi itu, terbalik, bajunya dulu yang saya lepaskan. Jadilah dia marah-marah dan minta dipakaikan bajunya kembali. Saya sudah jelaskan, enggak apa-apa buka baju dulu baru celana, tapi dia tetap protes dan malah ngamuk. Apa boleh buat, saya terpaksa memakaikan bajunya kembali dan kemudian melepaskannya sesuai "prosedur".
Soal keramas dan mandi pun kami pernah ribut. Ia terbiasa keramas dulu baru pakai sabun. Kalau ritualnya dibalik, dia takkan mau. Pokoknya, jadi merepotkan deh! Saya sama sekali enggak nyangka kalau rutinitas yang saya tanamkan itu akhirnya malah jadi bumerang buat saya.
BERBAGAI ALASAN
Masalah ini lantas saya curahkan kepada seorang psikolog anak. Namanya, Yelia Dini Puspita, M.Psi., dari Lembaga Psikologi Terapan UI. Ternyata, menurutnya, bukan anak saya saja yang punya perilaku seperti itu. Alasannya, sebagian anak usia prasekolah mulai menguasai berbagai aktivitas tertentu yang terbentuk melalui proses pembiasaan. Sikap kaku terhadap suatu kebiasaan wajar terjadi sampai usia sekitar 4 tahun. "Kebiasaan atau ritual yang kaku itu umumnya berkaitan dengan aktivitas sehari-hari, seperti ritual makan, berpakaian, dan mandi. Namun juga bisa meluas pada kebiasaan bermain maupun mengatur benda-benda miliknya," kata Yelia.
"Mungkin karena saya terlalu tertib ya, Mbak, dalam menerapkan rutinitas itu?" tanya saya.
"Memang, penerapan disiplin dari orangtua yang bersifat kaku, bisa menjadi penyebabnya. Segala rutinitas harus dilakukan dengan prosedur tertentu, baik dalam waktu maupun cara pelaksanaannya. Hal tersebut membentuk kebiasaan yang kuat pada anak dan diadopsi olehnya sehingga menimbulkan tingkah laku ritual yang kaku pula. Tanpa disadari, anak sudah telanjur nyaman dengan tata cara yang berulang, bersifat rutin, dan dapat diprediksi. Perhatian khusus perlu diberikan jika selewat usia 4 tahun, anak masih sangat kaku pada tata cara tertentu dalam beraktivitas. Kalau dibiarkan, ia dapat berkembang menjadi pribadi yang tidak fleksibel dalam menghadapi berbagai hal," jawab Yelia.
"Ada sebab lainnya lagi tidak?" tanya saya kembali.
"Biasanya hal ini juga berkaitan dengan karakter anak. Anak-anak yang mengarah pada karakter perfeksionis, umumnya melakukan segala sesuatu sesuai dengan prosedur atau ritual dan tahapan yang relatif sama agar mendapatkan hasil yang ‘sempurna’ baginya, sehingga akhirnya terbentuklah tingkah laku ritual yang kaku pada anak."
"Mungkin enggak karena anak ingin cari perhatian ayah bundanya?"
"Mungkin sekali, karena anak sangat menikmati perhatian dari orangtuanya. Kalau yang ini mudah sekali terlihat karena terjadinya hanya di saat-saat tertentu saja. Misal, ketika ibu atau ayahnya ada waktu untuk menemaninya mandi, bermain, dan lainnya. Sebab lainnya berkaitan dengan pola pikir yang rigid atau kaku dan adanya tindakan yang bersifat repetitif atau berulang. Umumnya dialami oleh anak dengan gangguan perkembangan, semisal autisma. Tentu saja anak seperti ini perlu penanganan khusus untuk menanggulanginya."
POSITIF-NEGATIF
Sebenarnya, kata Yelia, perilaku tersebut wajar-wajar saja, selama tidak sampai menyusahkan. "Umumnya, semakin bertambah usia anak, maka keterampilan sosialnya juga akan bertambah, sehingga kebiasaan yang kaku ini semakin lama semakin berkurang dan akan menghilang dengan sendirinya tanpa intervensi khusus. Kecuali pada anak yang memang mengalami gangguan perkembangan."
Akan tetapi, lanjut Yelia, bukan berarti orangtua tak perlu membantu. "Kebiasaan kaku ini akan berangsur berkurang hanya bila tidak mendapatkan penguatan dari lingkungan. Jika orangtua justru memperkuat kebiasaan yang kaku tersebut, entah dengan membiarkan, selalu menuruti keinginan anak, maupun tidak memberikan penjelasan pada si anak, maka kebiasaan kaku tersebut akan tampil lebih kuat."
Kerugiannya, sikap kaku yang berlebihan tanpa disertai fleksibilitas akan menyulitkan anak dalam beradaptasi dengan hal-hal baru. Hal ini juga menghambatnya dalam berinteraksi sosial dengan orang lain. Namun, bukan berarti menanamkan kebiasaan secara teratur itu salah. Buah positifnya juga ada. Antara lain, anak dapat mengembangkan disiplin dan keteraturan dalam bertindak, serta terbiasa melakukan perencanaan. Lebih jauh lagi, anak dapat melakukan antisipasi terhadap hal-hal yang mungkin akan terjadi. Karenanya, orangtua pandai-pandailah mengatur ritme penerapan aturan dan bersikap fleksibel di saat-saat darurat.
VARIASI, DONG...
"Kalau sudah telanjur, apa yang harus dilakukan, Mbak?" tanya saya segera.
"Orangtua harus peka terhadap kebutuhan dan karakter anaknya, ini yang pertama. Peka terhadap kebutuhan, antara lain dengan mengenali alasan yang menyebabkan anak melakukan tindakan tersebut. Orangtua harus berusaha untuk memahami karakter dan pola tingkah laku anak, serta proses pembiasaan yang terjadi. Kemudian berusaha berempati dan tidak memaksanya mengubah kebiasaan. Dukungan serta sikap yang konsisten lebih diperlukan anak agar merasa lebih aman, sehingga dapat membentuk rasa percaya diri dan pada akhirnya tindakan ritual tersebut akan hilang dengan sendirinya. Kalau memang karakternya perfeksionis, maka anak perlu dipersiapkan dalam menghadapi segala aktivitasnya, terutama yang di luar kebiasaan. Beritahukan atau jelaskan terlebih dahulu apa yang akan terjadi atau dilakukan oleh si anak di luar dari kebiasaannya itu," kata Yelia.
Sebetulnya, anak-anak yang memang mudah menyesuaikan diri biasanya tak terlalu terganggu bila melakukan rutinitas di luar jalurnya. Dalam kondisi terburu-buru, tak masalah jika handuknya dipakai terbalik, atau jika dibantu dipakaikan sepatunya sebelah kiri dulu padahal biasanya kanan. "Anak seperti ini dapat dengan cepat mengatasinya. Bahkan, beberapa anak justru merasa senang dan tertarik menghadapi ‘hal baru’ tersebut," lanjut Yelia.
"Namun fleksibel bukan berarti berubah-ubah, lo. Fleksibel adalah kemampuan beradaptasi secara cepat terhadap perubahan yang terjadi," tambahnya segera. "Bagaimanapun, dalam menerapkan disiplin, orangtua harus tetap konsisten. Kalau tidak konsisten atau berubah-ubah justru dapat menimbulkan kebingungan dan membuat anak merasa tidak nyaman. Hanya saja dalam pembiasaan yang konsisten tersebut selipkan juga variasi ritual yang dapat orangtua berikan dalam momen-momen tertentu. Sesekali, ajaklah anak makan sambil piknik di halaman. Tapi kalau anak tidak mau, ya jangan dipaksa. Biarkan saja dia tetap melakukan ritualnya sambil diberikan penjelasan mengenai variasi ritual yang bisa ia lakukan. Selain itu, orangtua juga perlu introspeksi akan sikapnya selama ini apakah dalam penerapan disiplin bersifat kaku ataukah cukup fleksibel."
Sedangkan bila penyebabnya adalah si anak cari perhatian, menurut Yelia, kembali lagi orangtua perlu peka terhadap kebutuhan anak. Selain juga perlu ditelaah apakah cari perhatian tersebut mengarah pada kurangnya kebersamaan dengan anak, atau merupakan aksi protes anak terhadap penerapan disiplin yang dilakukan orangtua. Ada baiknya orangtua melakukan introspeksi, kemudian memperbaiki diri serta memberikan perhatian sesuai dengan kebutuhan anaknya.
Kini saya bisa bernapas lega. Setidaknya, saya jadi paham, mengapa buah hati saya sampai "sekaku" itu. Tentu saja saya juga harus berubah kalau tidak ingin si kecil kelak benar-benar menjadi pribadi yang kaku.
Minggu, 23 November 2008
Layanan Prima di Perpustakaan PT
TIDAK MUDAH TETAPI BISA DILAKUKAN
by:Ana Afida, S.Ag, S.IP
A. PENDAHULUAN
Perpustakaan Perguruan Tinggi merupakan unsur penunjang Perguruan Tinggi, yang bersama-sama dengan unsur penunjang lainnya, berperan serta dalam melaksanakan tercapainya visi dan misi perguruan tingginya.
Dengan demikian perpustakaan Perguruan Tinggi sebagai sarana untuk menyebarkan informasi bagi civitas akademika, maka informasi yang dimiliki harus mengacu dan sesuai dengan kurikulum yang berlaku di sebuah perguruan tinggi . Sehingga dengan memiliki koleksi yang sesuai dengan kurikulum akan terlihat manfaat bagi penggunanya untuk memperoleh informasi yang dikehendaki.
Berdasarkan pola pemikiran tersebut di atas, maka diperlukan tenaga pengelola perpustakaan yang profesional dan berlatar belakang pendidikan yang sesuai, sehingga akan menambah wawasan untuk mengembangkan perpustakaan yang dikelolanya. Dengan didukung tenaga perpustakaan yang profesional diharapkan dalam penyediaan bahan pustaka dan pelayanan di perpustakaan dapat dimanfaatkan oleh penggunya secara optimal. Hal ini dimaksudkan agar dapat memenuhi kebutuhan penggunanya.
Sebanyak dan selengkap apa pun koleksi yang dimiliki perpustakaan tentu tidak akan bermanfaat, apabila tidak di pergunakan oleh pemakai. Disinilah peran seorang pustakawan yang berpengalaman dalam penyediaan bahan pustaka dan pelayanannya selalu memperhatikan kebutuhan, minat serta selera dari penggunanya. Berbagai upaya ditempuh oleh pihak perpustakaan untuk menyediakan layanan perpustakaan yang prima agar dapat memberikan kepuasan kepada penggunanya.
B. LAYANAN PRIMA DI PERPUSTAKAAN PERGURUAN TINGGI
Pemakai Perpustakaan Perguruan tinggi terdiri dari mahasiswa, dosen, dan staf. Mahasiswa yang datang ke perpustakaan yaitu mahasiswa regular, ekstensi, serta pasca sarjana. Selain mahasiswa, dosen juga datang ke perpustakaan untuk mendapatkan informasi sesuai dengan kebutuhan mereka guna mengajar dan mengadakan penelitian. Begitu pula, staf juga datang ke perpustakaan karena membutuhkan informasi. Ketiga jenis pemakai ini berbeda dalam hal mendapatkan informasi. Perbedaan ini menunjukkan bahwa perpustakaan memang pusat belajar, mengajar, dan penelitian sebagaimana tercakup dalam Pedoman Umum Pengelolaan Koleksi Perpustakaan Perguruan Tinggi (1999, hal. 5). Ketiga jenis pemakai memperlihatkan perbedaan dalam pengajuan pertanyaan dan kebutuhan informasi.Mahasiswa sering datang ke perpustakaan menanyakan berbagai hal yang berhubungan dengan perkuliahan. Misalnya, dalam mengerjakan tugas mahasiswa membutuhkan literatur tentang subjek tertentu. Pustakawan dapat membantu mahasiswa tersebut dengan mencarikan literatur. Bisa dengan bantuan penulusuran di internet, buku, dan jurnal yang dilanggan perpustakaan. Lain lagi dengan dosen, mereka datang ke perpustakaan mencari bahan mengajar atau penelitian. Dosen meminta pustakawan mencari buku atau jurnal sesuai dengan apa yang mereka ajarkan. Misalnya, untuk kuliah manajemen. Berbeda dari mahasiswa dan dosen, staf datang ke perpustakaan juga mencari informasi. Mereka misalnya mencari buku untuk digunakan sebagai penataran atau kenaikan pangkat.
Dari ketiga jenis pemakai tersebut, tingkah laku mereka pun berbeda. Ada yang dapat menggunakan bahasa yang baik dan mudah dimengerti, tetapi kadang-kadang ada juga yang tidak. Ada yang sopan, ada pula yang tidak. Menjadi tugas pustakawan untuk memenuhi semua kebutuhan pemakai. Pustakawan harus bisa mengatasi persoalan dengan sebaik mungkin. Pustakawan harus dapat menjawab pertanyaan dengan bahasa yang jelas, tepat, dan sopan. Alhasil pemakai akan merasa puas. Sesuai dengan pendapat Lily Roesma (2000), pustakawan harus :
1. Sopan. Pandang muka orang yang bertanya, berikan perhatian penuh.
2. Mempergunakan bahasa yang baik.Sederhana dan mudah dimengerti.
3. Menjawab pertanyaan secara profesional.
4. Mengusahakan agar yang bertanya puas akan jawaban saudara.
Pelayanan prima adalah pelayanan yang berorientasi pada kepuasan pelanggan dan memberi layanan melampaui dari yang diharapkan pelanggan. Ada 5 dimensi layanan yang harus di penuhi dalam pelayanan prima:
1. Tangible
Yaitu sesuatu yang mudah dilihat dan diukur
2.Emphaty
Kemudahan dalam berhubungan komunikasi, perhatian pribadi dan memahami kebutuhan pelanggan, misalnya : mengucapkan salam dan ucapan terimakasih
3. Responsivenes
Keinginan untuk membantu dan memberikan layanan secara tanggap
4. Realibility
Kemampuan memberikan layanan yang dijanjikan dengan segera, akurat dan memuaskan
5. Assurance
Pengaturan, kemampuan, kesopanan dan sifat yang dapat dipercaya pelanggan. Jelaslah bahwa Pustakawan harus mengetahui cara berkomunikasi yang efektif dengan pemakai. Misalnya, Pustakawan harus mendengarkan dan memahami pertanyaan pemakai, seperti dikatakan oleh Dahana (2000). Apabila Pustakawan dapat berkomunikasi dengan efektif, maka besar kemungkinan harapan kebutuhan informasi pemakai akan tercapai dan Pemakai akan merasa senang dan puas.
Kepuasan pemakai akan informasi dari pustakawan merupakan hasil akhir bahwa pustakawan berhasil. Menurut Putu Laxman Pendit (1992): "Hasil akhir yang harus menjadi patokan para pustakawan adalah sumbangan pekerjaannya dalam perkembangan pengetahuan masyarakat yang dilayani. Kualitas kepustakawanan seorang pustakawan, dengan demikian diukur dari sumbangannya pada peningkatan kepuasan pemakai perpustakaan. (h. 87)
Jelas bahwa kepuasan pemakai terletak pada bagaimana Pustakawan dapat melayani kebutuhan pemakai sebaik mungkin.Contohnya, Pustakawan harus ramah, cepat, dan tepat dalam memberikan layanan kepada pemakai dengan berbagai macam bentuk dan dari berbagai macam sumber informasi. Ini sesuai dengan pendapat Sutarno tentang layanan perpustakaan sebagai layanan prima, yaitu cepat, tepat, mudah, sederhana, dan murah, serta memuaskan pemakainya. (Sutarno, 2004, h.71).
Pustakawan juga dapat semaksimal mungkin memberikan sumbangan pengetahuan baru pada pemakai perpustakaan. Misalnya, dalam mencari artikel untuk subyek tertentu, mahasiswa diarahkan untuk menggunakan online journal yang dilanggan dengan subyek yang dikehendakinya. Dengan begitu, pemakai akan merasa senang karena mendapatkan informasi yang sesuai kebutuhan. Pemakai menjadi sering datang memanfaatkan koleksi yang ada di perpustakaan semaksimal mungkin sesuai kebutuhannya. Kalau tidak tahu, mereka dapat bertanya kepada Pustakawan untuk mendapatkan koleksi yang dimaksud. Dan Pustakawan pun harus terus meningkatkan pengetahuan sesuai dengan perkembangan ilmu. Pustakawan harus dapat memaksimalkan juga kualitas pemakaian perpustakaan. Misalnya dengan memanfaatkan koleksi yang ada di perpustakaan untuk dijadikan sumber informasi kepada pemakai.
Namun, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Koleksi yang tersedia jumlahnya harus diperbanyak lagi, baik dari segi judul maupun eksemplar.
Selain koleksi, yang perlu diperhatikan dalam memberikan layanan prima adalah ketersediaan ruangan yang nyaman dan tertata baik. Ruangan yang kurang luas dan kurang nyaman. Misalnya, karena tidak ada ruang sekat antara ruang baca dan ruang diskusi, sangat lah mengganggu kalau ada mahasiswa yang sedang diskusi. Belum lagi ketersediaan meja dan kursi yang tidak memadai dengan jumlah mahasiswa pemakai perpustakaan.
C. KESIMPULAN
Perpustakaan adalah sebagai tempat penyelenggara informasi perlu adanya sistem pelayanan yang baik dari pustakawannya. Pustakawan harus memiliki visi yang jelas dalam melaksanakan tugasnya. Layanan merupakan salah satu faktor penting untuk menarik pemustaka berkunjung ke perpustakaan. Dengan kecepatan,ketepatan dan keramah-tamahan layanan, maka kepuasan pemustaka - yang merupakan muara akhir dari tujuan layanan perpustakaan- akan tercapai. Citra perpustakaan akan meningkat jika pelayanan prima bisa diimplementasikan di seluruh bagian dari perpustakaan Dengan adanya pelayan prima di setiap bagian maka akan muncul pelayanan yang bermutu, yaitu :
- pelayanan yang disediakan pada saat dibutuhkan
- pelayanan sesuai dengan kebutuhan pelanggan
- pelayanan mudah didapatkan/diakses oleh pelanggan
- pelayanan dapat dipercaya oleh pelanggan
- tidak ada keraguan atau resiko yang berkaitan dengan penggunaan layanan
layanan di atas hanya bisa dilakukan oleh orang yang :
- memiliki ketrampilan dan pengetahuan yang dibutuhkan
- berpretasi dalam hal penampilan
- didukung oleh sarana dan prasarana yang mantap
- ramah dan sopan
Apabila semua komponen dari perpustakaan mulai dari bagian parkir,bagian kantin, bagian pendaftaran, bagian sirkulasi, bagian pengolahan, bagian pengembangan, bagian tata usaha dan bagian lainnya memahami dan menerapkan pelayanan prima, maka tidak hanya jumlah pengunjung perpustakan saja yang meningkat tetapi kualitas layanan juga akan sangat dirasakan pemustaka, sehingga citra perpustakaan yang selama ini masih terpuruk bisa meningkat. Semoga.
DAFTAR PUSTAKA
Pendit, Putu Laxman. Makna informasi: lanjutan dari sebuah perdebatan. Dalam Kepustakawanan Indonesia: potensi dan tantangan. Editor, Antonius Bangun et.al. Jakarta: Kesaint Blenc, 1992.
Perpustakaan Nasional RI. Pedoman umum pengelolaan koleksi perpustakaan perguruan tinggi. Jakarta: Perpustakaan Nasional, 1999.
Roesma, Lily. Penyuluhana tentang cara berkomunikasi yang efektif dengan pengguna perpustakaan. Disampaikan dalam penyuluhan bagi petugas pelayanan perpustakaan di lingkungan Universitas Indonesia, Depok, 25 Januari 2000.
Sutarno NS, Manajemen perpustakaan: suatu pendekatan praktik. Jakarta: Samitra Media Utama, 2004
Jumat, 20 Juni 2008
anakku mau masuk sekolah
Di usia yang belum genap tiga tahun memang tak mudah mengajak anak "bersekolah" di Kelompok Bermain (KB). Ada yang dari awal sudah angot, ada yang sempat masuk sebentar lalu bosan, ada juga yang mau "sekolah" tapi harus ditunggui terus di dalam kelas. Apa yang dilakukan para orangtua dan apa kata Santi Gunawan, seorang guru pada lembaga pendidikan prasekolah, Kinderfield.
DARI AWAL LANGSUNG MOGOK
"Waktu saya masukkan ke KB, usia Nadia baru 2 tahun. Saat trial dan observasi awal, sepertinya dia senang, karena memang ruangannya penuh dengan alat bermain. Akhirnya saya putuskan untuk memasukkannya ke KB itu. Saya lihat selain fasilitasnya lengkap, lokasi sekolahnya ramah anak, guru-gurunya pun kelihatan sabar dan mempunyai latar belakang sebagai pendidik. Rasanya semuanya ideal. Tapi apa mau dikata, hari pertama masuk kelas, Nadia langsung nangis kenceng. Dia benar-benar tidak mau lepas dari gendongan saya. Bahkan gantian dipangku pengasuhnya pun enggak mau. Gurunya mengatakan itu biasa, setelah beberapa hari nanti berhenti sendiri. Sesi kedua sekolah terpaksa saya cuti lagi dari kantor, karena belum tega meninggalkan dia dengan pengasuhnya saja. Kejadian kemarin terulang lagi. Sesi berikutnya saya paksakan hanya dengan pengasuhnya saja. Saya pikir dia jadi angot karena ada saya. Ternyata dari laporan guru dan pengasuhnya, Nadia tetap menangis dan tidak mau pisah dari pengasuhnya. Akhirnya saya putuskan untuk stop dulu. Mungkin usianya masih terlalu muda untuk masuk KB, jadi belum siap," tutur Linda Saraswati, ibu dari Nadia Dewanti (2;8).
KOMENTAR AHLI
Ada anak-anak yang dari awal masuk KB sudah angot dan cenderung rewel terus seperti kasus Nadia, hingga akhirnya orangtua memutuskan untuk tidak melanjutkan sekolahnya. Beberapa hal bisa menyebabkan anak angot masuk KB, di antaranya:
* Usia terlalu muda.
Anak-anak yang usianya di bawah 2 tahun biasanya memang sulit berpisah dengan figur yang dikenalnya, seperti orangtua atau pengasuhnya. Jangankan bertemu dengan banyak orang yang wajahnya masih "asing" di lingkungan baru, di rumah pun kalau ditinggal sendiri kadang masih menangis.
Solusi:
Tidak ada patokan pasti usia berapa anak siap masuk KB. Ada yang masih 1;5 tahun sudah enjoy, ada pula yang usianya hampir 3 tahun belum siap juga. Orangtua harus bijak, kalau dirasa umur menjadi kendala, sebaiknya jangan dipaksakan. Latih anak untuk bertemu dengan orang-orang baru di segala suasana sebanyak mungkin. Misal, mengajaknya ke pusat keramaian, ke taman bermain, ke acara keluarga, dan sebagainya. Setelah anak dirasa siap bersosialisasi dengan banyak orang, barulah dicoba lagi.
* Kendala bahasa.
Anak-anak yang di masukkan ke KB dengan bahasa pengantar bahasa asing, sementara di rumah hanya menggunakan bahasa ibu, biasanya akan bermasalah. Hanya anak-anak dengan kemampuan adaptasi yang bagus yang bisa melewatinya. Tapi pada beberapa anak, hal ini menimbulkan rasa "frustrasi" hingga akhirnya selalu rewel kalau diajak ke sekolah.
Solusi:
Kalau bahasa yang menjadi kendala, sebaiknya orangtua mencarikan KB dengan bahasa pengantar bahasa ibu. Kalaupun orangtua menginginkan anaknya belajar bahasa asing sejak dini, ada baiknya memilih KB bilingual, yakni menggunakan dua bahasa sekaligus, bahasa asing dan bahasa ibu sebagai pengantar. Jangan karena KB berbahasa pengantar bahasa asing lebih prestise, orangtua lalu memaksakan diri dan berakibat fatal, anak ogah datang lagi ke sekolah.
* Anak-anak berkebutuhan khusus.
Anak-anak dengan kebutuhan khusus, seperti autis, ADHD, DS, dan sebagainya, cenderung lebih sulit saat dimasukkan ke KB, karena perkembangannya yang tidak sama dengan anak lain. Anak lebih sulit diatur, tidak bisa diam, kemampuan komunikasi dan sosialnya terbatas.
Solusi:
Orangtua sebaiknya selektif memilihkan KB yang sesuai untuk anak-anak ini. Pilih KB yang berpengalaman dengan anak-anak kebutuhan khusus. Bandingkan beberapa KB sebelum memutuskan mana yang paling kondusif untuk anak.
LANGSUNG BERBAUR
R. E. Salim, orangtua Reza (masuk KB umur 2;6):
”Sebelumnya Reza sudah beberapa kali ke sekolah itu untuk menjemput sepupunya. Ia kelihatannya senang sekali melihat banyak anak lainnya. Makanya, begitu mulai bersekolah, sudah seperti di rumah sendiri. Tidak ada nangis, tidak ada takut-takut, dia langsung bermain dengan murid-murid di sana. Sepertinya dari hari pertama Reza tidak butuh ditunggui, malah lupa kalau ada mamanya yang menunggui. Sejak hari ketiga Reza menggunakan mobil jemputan dengan ditemani pengasuhnya. Setelah 3 bulan sekolah, ia minta supaya tidak ditemani pengasuhnya lagi. Katanya, ‘Malu, cuma Reza yang ditemani Mbak, yang lain enggak.’ Saya telepon guru kelasnya, menanyakan apakah cukup aman membiarkan Reza naik mobil jemputan sendiri. Ternyata pihak sekolah malahan mendukung. Mereka yakin sopir jemputan bisa menjaga keselamatan Reza selama di jalan. Ya sudah, akhirnya kami turutipermintaan Reza. Sejak umur 2 tahun 9 bulan Reza sudah ke sekolah sendiri!”
KOMENTAR AHLI
Ada juga anak-anak yang sejak awal tidak ada masalah masuk KB. Umumnya mereka ini mempunyai perkembangan sosial yang mantap. Rasa percaya dirinya pun baik sehingga tak masalah baginya berada di lingkungan baru dan bertemu dengan orang-orang baru.
PERJUANGAN BERAT
Indreswari, ibu dari Dianisa (3):
"Pekan-pekan pertama merupakan saat yang sulit. Saya harus ikut masuk kelas karena kalau tidak Nisa akan menangis meraung-raung. Sebulan berlalu, tidak ada perubahan. Ibu gurunya menyarankan, saya harus ‘memaksakan diri’ untuk tidak ikut masuk. Hari pertama tanpa saya, dia menangis keras. Seiring berjalannya hari, tangisnya makin singkat. Berhasil. Sekarang yang sedih malah saya. Setiap saya ikut mengantarnya ke sekolah, dia jadi manja dan tidak fokus. Ibu gurunya sampai berkata, ‘Ibu, kalau bisa jangan ikut ngantar Nisa sekolah. Kalau diantar Mbaknya dia enggak begini.’ Waaah...."
Lely Pandjaitan, ibu dari Debora Ellyana (masuk KB umur 1,5):
"Debora saya masukan ke KB yang punya kelas 1;5 sampai 3 tahun. Memang, waktu itu proses adaptasinya agak sulit. Kurang lebih 4 bulan saya harus menemaninya ke sekolah. Untungnya jam sekolahnya lumayan singkat, sekitar 2 jam saja. Akhirnya saya mencoba rembukan dengan gurunya untuk secara bertahap meninggalkan dia di kelas. Dari waktu yang singkat sampai akhirnya saya bisa mengawasinya dari jauh dan akhirnya bisa ditinggal."
KOMENTAR AHLI
Umumnya orangtua mempunyai pengalaman serupa. Hanya waktunya saja yang berbeda-beda, ada yang seminggu anaknya sudah bisa ditinggal, ada yang sebulan, bahkan ada 4 bulan seperti yang dialami Ibu Lely. Itu semua wajar saja. Orangtua tidak usah risau. Berikut cara mudah mengajak anak sekolah:
* Pastikan KB yang dipilih juga disukai anak. Manfaatkan fasilitas trial untuk mengetahuinya.
* Hari pertama tak masalah kalau anak belum mau berpisah. Bahkan kalau anak masih mau dipangku pun turuti saja. Usahakan anak merasa nyaman dan jelaskan bahwa lingkungan baru itu bukan ancaman baginya.
* Hari kedua usahakan untuk duduk di sebelahnya. Jelaskan padanya kalau anak lain juga sudah tidak ada yang dipangku. Kenalkan anak pada teman-temannya. Usahakan anak mau berbaur. Kalau di kelas anak-anak duduk di karpet, usahakan orangtua duduk di bangku sehingga ada "jarak".
* Setelah itu tunggui anak di pojok ruangan. Cukup pastikan kalau orangtua tetap ada di sekitarnya meski tidak lagi duduk di sebelahnya.
* Bila anak sudah terlihat menikmati, usahakan untuk menungguinya di luar ruang kelas.
AWALNYA MAU LALU MOGOK
Singgih Nugroho, ayah dari M. Alif (3), bercerita, “Meski awalnya harus ditunggui dulu, tapi akhirnya Alif bisa dilepas dengan pengasuhnya saja. Seminggu tiga kali jadwalnya masuk KB. Alif memang cenderung cepat bosan. Di KB pertamanya dia hanya bertahan 2 bulan. Setelah itu jadi rewel kalau harus sekolah. Saya rasa dia bosan. Daripada ribut terus akhirnya saya putuskan
untuk libur dulu di rumah. Menurut saya sih enggak apa-apa ya, toh ini kan masih di KB. Setelah itu saya masukkan lagi ke KB yang sama dengan sepupunya. Dia kelihatan enjoy sekali, tapi ya itu, kalau sedang bosan, pasti rewel lagi.”KOMENTAR AHLIAda beberapa alasan mengapa anak yang awalnya tidak masalah di KB lalu jadi mogok sekolah. Di antaranya:l Bosan Meski tidak banyak, tapi ada juga anak-anak seperti Alif, yang mempunyai kecenderungan cepat bosan. Coba perhatikan, kalau diberi mainan baru, berapa lama ia bisa menikmatinya? Kalau diajak pergi ke suatu tempat, berapa lama ia bisa “bertahan”? Kalau jawabannya tidak lama, bisa jadi ia termasuk anak yang mudah bosan.Solusi: Untuk anak-anak seperti ini, orangtua harus lebih jeli dalam memilih KB. Tanyakan detail aktivitas di dalam kelas, berapa banyak mainan yang disediakan, saat mengikuti trial perhatikan kecakapan dan kreativias gurunya membangun suasana. Kalau semua dirasa sudah cocok tapi di tengah jalan anak tetap mogok juga, jangan buru-buru menyetop/memindahkannya.
Coba diskusikan dahulu dengan gurunya untuk mencari solusi terbaik. Yang penting, saat mogok jangan paksa anak, karena pemaksaan hanya akan membuatnya makin ogah sekolah. l Ada kejadian tak mengenakkan. Namanya bergaul dengan orang banyak, mungkin saja anak mengalami satu-dua kejadian yang tidak mengenakkan. Misal, didorong temannya saat antre mainan, terjatuh saat berlarian di dalam kelas, terantuk kursi dan sebagainya.
Pada beberapa anak kejadian tersebut menimbulkan pengalaman yang membuatnya mogok datang lagi ke sekolah.Solusi:Coba cari tahu dahulu bagaimana kronologis kejadiannya. Kalau dirasa itu adalah kejadian wajar, orangtua sebaiknya tetap mengusahakan anak datang lagi ke KB. Lihat sisi positif kejadian tersebut. Umpamanya anak didorong temannya, jadikan itu sebagai teaching moment, tentang pentingnya budaya antre, larangan mendorong/memukul/melakukan kekerasan pada siapa pun. Coba diskusikan dengan gurunya supaya kejadian yang tidak mengenakkan itu tidak terulang lagi.
permainan untuk anak
Adu seru game tidak hanya di Play Station saja. Sekarang makin banyak situs yang menjadi surga para pecandu game. Di situs-situs tersebut para pengunjung disuguhi oleh beragam permainan, dari yang jenis permainan klasik macam solitaire sampai yang rumit dan canggih seperti game action atau monopoli tycoon. Kalau bosan bermain sendiri sekarang kita bisa berbagi permainan dengan banyak teman. Teman di sini bukan hanya yang ada di sebelah rumah atau teman sekelas, tapi bisa juga teman virtual dari belahan dunia lain. Jadi bisa jadi nanti lawan main kita dalam game tinju berdomisili di New York atau Tokyo misalnya.
Permainan oke, kita asyik bermain, biaya akses internetnya jadi mahal dong? Tidak masalah lagi sekarang karena banyak situs game online yang juga menyediakan fasilitas donwload. Artinya kita bisa mengambil game yang ada di situs tersebut dan menyimpannya di komputer pribadi. Dengan begitu untuk memainkan game yang kita suka tidak perlu online lagi, cukup dari rumah saja. Mereka tidak pernah kuatir akan kehilangan pengunjung karena hampir setiap harinya ada saja permainan baru yang muncul dan siap untuk didownload.
Jadi tertarik untuk bermain game online? Nama-nama situs di bawah ini bisa dicoba bagi yang pertama kali bermain online. Secara keseluruhan masing-masing situs menawarkan fasilitas yang mirip. Beragam jenis permainan digelar habis mulai dari jenis kartu, olah kata, olah raga, petualangan, aksi laga sampai ke adu strategi, yang bisa dimainkan sendiri atau beramai-ramai. Mereka juga umumnya menyediakan beberapa permainan untuk didownload secara gratis, asli tanpa biaya. Beberapa situs memang meminta para pengunjung untuk menjadi anggota terlebih dahulu. Tapi jangan kuatir karena mereka tidak memungut biaya. Hanya saja untuk permainan jenis terbaru yang lebih atraktif dibutuhkan software tambahan di komputer kita, macam Flash, Java dan Shockwave. Situs permainan khusus untuk anak juga bagus buat dicoba. Karena selain sifatnya aman juga edukatif. Semua situs di bawah ini memakai bahasa Inggris sebagai pengantar. Saran yang perlu diperhatikan : ingat waktu! Efek negatif dari game manapun adalah faktor kesenangan dan kecanduan yang bisa buat kita lupa waktu dan lupa segalanya. Supaya efek negatif tersebut tidak menguras keuangan kita, karena dengan kata lain biaya internet makin mahal, disarankan untuk mendownload saja permainan yang kita suka. Selamat mencoba!
.: Shockwave Games
http://www.shockwave.com/sw/games/
Fasilitas main gratis. Sebaiknya menjadi anggota karena selain tidak dipungut biaya juga bisa download permainan gratis.
.: Yahoo Games
http://games.yahoo.com/
Fasilitas main dan download gratis. Ada berita dan tip trik game terbaru. Pemilik email di Yahoo otomatis menjadi anggota Yahoo Games.
.: MSN Games
http://zone.msn.com/
Fasilitas main gratis dan ada game khusus anak -anak. Anggota MSN Passport atau Hotmail otomatis jadi anggota MSN Games.
.: FunBrain
http://www.funbrain.com/
Situs edukasi yang dikemas dalam aneka permainan menarik untuk anak, orang tua dan guru. Jadi sambil bermain bisa belajar matematika sampai bahasa Inggris.
.: Kids Domain Online Games
http://www.kidsdomain.com/games/
Situs khusus yang menyediakan aneka permainan untuk anak segala usia. Sebagian besar game membutuhkan software tambahan Flash, Java dan Shockwave.
.: Word Village Kidz
http://www.worldvillage.com/kidz/
Sedia games online untuk anak-anak dan link ke situs permainan anak lainnya
perpustakaan untuk anak
"tanpa buku tak ada nyanyian kebebasan, dengan buku kita menjadi manusia "
HAMPIR semua orang sepakat, buku merupakan jendela dunia dan dapat membawa anak ke bagian dunia mana pun yang diinginkannya. Sayangnya, masih banyak anak di Indonesia yang membutuhkan wadah untuk mewujudkan mimpi-mimpinya, terutama mereka yang berasal dari masyarakat kebanyakan.
Keprihatinan inilah yang mendorong kelahiran wadah Komunitas 1001buku. Sebuah komunitas yang bercita-cita untuk membawakan lebih banyak lagi buku pada anak-anak yang hampir tidak memiliki akses pada bahan-bahan bacaan. Jangankan buku anak-anak yang berkualitas dan bisa memenuhi hasrat keingintahuan anak, bahan bacaan sederhana pun hampir tidak pernah mereka temukan. Untuk itulah, sekitar 200 relawan terjun membantu 31 perpustakaan anak-anak yang dikelola secara mandiri oleh Komunitas 1001buku.
Komunitas 1001buku ini berdiri pada bulan Mei 2002, yang berawal dari sebuah milis 1001buku@yahoogroups.com $ oleh beberapa pecinta anak dan buku. Bulan-bulan berikutnya diisi dengan berbagai pembicaraan, cerita keprihatinan, dan beragam ide, yang pada akhirnya mendorong lahirnya Komunitas 1001buku. Salah satu ide yang terlontar untuk pengumpulan buku-buku yang akan dikirimkan pada anak-anak adalah membuat book-drop-box (BDB). Sebelum berusia empat bulan, sudah ada 11 BDB yang ditangani relawan Komunitas 1001buku. Setelah buku terkumpul, kemudian dilakukan pemilihan, pengepakan, dan penyaluran buku-buku pada perpustakaan anak. Kegiatan inilah yang menjadi aktivitas pokok Komunitas 1001buku.
Selain melalui penyediaan BDB, pengumpulan buku juga dilakukan dengan jemput bola, sapu jagat, dan Book-A-Thon. BDB merupakan kotak-kotak yang diletakkan di berbagai lokasi strategis, yang berada dalam jangkauan jaringan Komunitas 1001buku. Cara ini ditempuh untuk memudahkan pendukung inisiatif Komunitas 1001buku dalam menyumbangkan buku, majalah, dan bahan bacaan lain. Bahan bacaan baru maupun buku bekas itu akan disalurkan bagi perpustakaan anak komunitas yang berada dalam jaringan Komunitas 1001buku.
Pengelolaan BDB ini pada dasarnya bisa dilakukan siapa saja yang tergabung dalam jaringan Komunitas 1001buku sebagai relawan, bisa perorangan ataupun kelompok. Lokasi-lokasi BDB yang ideal tentunya di daerah-daerah strategis yang memudahkan para penyumbang untuk mengedrop bukunya. Saat ini sudah ada 27 titik BDB di Jakarta, sebagian besar berada di area perkantoran di mana para relawan/penanggung jawab BDB bekerja. Di luar Jakarta, BDB baru ada di Bandung dengan empat titik, dan Semarang dengan satu titik.
Pola pengumpulan buku melalui jemput bola dilakukan para relawan Komunitas 1001buku dengan mendatangi para penyumbang secara langsung ke tempat yang dijanjikan. Cara ini ditempuh untuk menampung buku yang disumbangkan oleh orang-orang yang tidak sempat mengirimkan buku atau mau menyumbangkan buku dalam jumlah yang banyak. Sementara cara "sapu jagat" dilakukan dengan mendatangi lokasi perumahan, kemudian menampung buku-buku yang ingin disumbangkan warga. Book-A-Thon merupakan book drive yang diselenggarakan di ruang publik, seperti di McDonald s dan lainnya.
Komunitas 1001buku pertama kali menyalurkan buku-buku anak yang terkumpul untuk empat perpustakaan anak yang ada di dalam jaringannya. Pada saat yang hampir bersamaan, komunitas ini kemudian meluncurkan websites di alamat www.1001buku.org $. Melalui websites inilah, setiap bulan Komunitas 1001buku melaporkan buku-buku apa saja yang diterima, berapa jumlahnya, dan kepada siapa buku itu disumbangkan. Dengan mekanisme ini, diharapkan apa yang dilakukan Komunitas 1001buku mempunyai akuntabilitas di mata para penyumbangnya.
Saat ini sudah terdapat 31 perpustakaan anak yang masuk dalam jaringan Komunitas 1001buku, tersebar di Jakarta, Tangerang, Depok, Serang, Bogor, Cirebon, Surabaya, Subang, Ponorogo, Purwakarta, Semarang, Rembang, dan Bandar Lampung. Perpustakaan ini tidak hanya dikelola perorangan, tetapi juga dikelola mahasiswa, komunitas masyarakat, yayasan, rumah singgah, pemerintah daerah, dan masjid.
AKHIR pekan lalu, Komunitas 1001buku kembali mendeklarasikan keberadaannya di The British Council Indonesia. Dalam acara itu, empat pengasuh perpustakaan anak-anak anggota jaringan Komunitas 1001buku berbagi pengalaman pada calon relawan. Misalnya, pengalaman bagaimana merintis perpustakaan anak dan mengelola perpustakaan anak berbasis komunitas, termasuk juga bagaimana mencari sumber dananya. Mereka adalah Gola Gong dari Rumah Dunia Serang, Ida Sitompul dari Pondok Baca Arcamanik Bandung, Trini dari Perpustakaan Komunitas Rembang Jawa Tengah, dan Lutfi dari Perpustakaan Komunitas Tegal Gundil.
Gola Gong merintis perpustakaan anak didorong keinginan untuk memaksimalkan pemanfaatan koleksi buku-buku yang dimilikinya. Untuk itu, bersama sang istri, Gola Gong kemudian membuka Rumah Dunia agar anak-anak di sekitar kampungnya dapat memanfaatkan buku-buku itu. Sementara Ida sudah bercita-cita untuk membuat perpustakaan sejak menuntut ilmu di luar negeri. Begitu pulang, ide itu terus hidup namun tidak bisa direalisasikan. Begitu ada Komunitas 1001buku, keinginan membuka perpustakaan itu hidup kembali, sampai akhirnya lahirlah Pondok Baca Arcamanik. Trini dan Lutfi lebih terdorong oleh kepedulian pada anak-anak sekitar tempat tinggal dan kampung halaman mereka.
"Ego kedaerahan saya mendorong untuk membuka perpustakaan komunitas di Rembang. Lewat ego kedaerahan itu pula saya mengumpulkan dana dari orang-orang Rembang yang ada di perantauan untuk membangun perpustakaan bagi anak-anak," ujar Trini.
Berbeda dengan Trini, Gola Gong mengaku menyisihkan 2,5 persen dari penghasilan yang diperolehnya untuk membiayai perpustakaan. Selain itu, juga meminta bantuan pada relasinya untuk menyumbang buku, kertas, spidol, dan sebagainya. Dengan cara inilah anak-anak yang ada di sekitar rumahnya bisa belajar dan memanfaatkan bahan bacaan, sekaligus belajar baca-tulis secara gratis.
Meskipun bukan perpustakaan mewah, namun jaringan perpustakaan anak ini telah berusaha untuk memberikan jendela bagi anak untuk melihat dunia yang luas. Sampai akhir Desember 2002, jaringan Komunitas 1001buku memang berhasil mengumpulkan sekitar 8.000 buku, namun masih banyak anak dari kalangan tak mampu yang belum terakses pada buku, apalagi pendidikan.
Dihadapkan pada kenyataan ini, lalu kapan kita bisa berbuat untuk mereka? Kalaupun tidak bisa berbuat banyak, apalagi harus terjun langsung bersama anak-anak itu, mungkin kita bisa menyumbangkan buku-buku anak- bekas maupun baru-melalui Komunitas 1001buku ini. Kalau bukan kita, lalu siapa lagi yang harus memperhatikan anak-anak itu?
pendidikan anak
Satu-satu, aku sayang ibu. Dua-dua, aku sayang ayah. Tiga-tiga, sayang adik kakak. Satu dua tiga sayang semuanya.
Apa hubungan lagu Satu-Satu Aku Sayang Ibu dengan logika matematis? Ternyata pengenalan urutan kesatu, kedua, lalu ketiga itu merupakan salah satu contoh logika matematis. Nah penguasaan logika dan penalaran matematis ini disebut kecerdasan logis matematis. Kecerdasan ini dipopulerkan oleh Howard Gardner, profesor pendidikan di Harvard University yang memasukkannya sebagai bagian dari kecerdasan majemuk (Multiple Intelligence). Lebih lengkapnya, kecerdasan logis matematis adalah kemampuan memahami suatu kondisi atau keadaan dengan menggunakan perhitungan matematis dan melalui penalaran logika. Fokusnya yaitu kemampuan memecahkan suatu masalah secara logis berdasarkan informasi-informasi yang dimiliki. Sering disebut juga sebagai kemampuan analisis. Jadi, kecerdasan logis matematis tak dibatasi pada kemampuan memecahkan soal hitung-hitungan saja.
Pada dasarnya, semua anak memiliki kecerdasan logis matematis. Hanya kadarnya saja yang berbeda-beda. Minat terhadap hal-hal yang berhubungan dengan berhitung (pada khususnya) juga memengaruhi perkembangan kecerdasan ini. Satu hal yang pasti, kecerdasan ini perlu dikembangkan—terlebih di usia prasekolah—karena anak diharapkan mampu melakukan tugas-tugas sederhana yang mungkin saja mengandung beberapa persoalan yang harus dipecahkannya.
Contoh, ketika anak diminta merapikan mainan yang berserakan, dia tahu bagaimana cara merapikannya dengan memilah-milah dan memasukkannya ke dalam boks mainan berdasarkan tipenya, merapikan buku-buku berdasarkan ukurannya ke rak, dan sebagainya. Contoh lain, jika tiba-tiba mobil-mobilannya tidak bisa jalan, anak diharapkan dapat mencari apa penyebabnya secara logis dan sistematis berdasarkan segala informasi yang dimilikinya. Anak yang memiliki kecerdasan logis matematis yang baik, akan mudah memahami situasi maupun kondisi yang tengah dihadapi, kemudian berusaha memecahkan masalahnya.
CIRI-CIRI CERDAS LOGIS-MATEMATIS
1. Sering bertanya dan menuntut jawaban yang masuk akal.
2. Ketika ditanya, dapat memberikan jawaban dengan logis. Begitu pun ketika menjelaskan suatu masalah bisa secara logis dan sistematis.
3. Keingintahuan untuk mengeksplorasi sesuatu amat besar. Anak suka melakukan percobaan-percobaan dari hal yang sederhana dan semakin kompleks seiring bertambahnya usia. Anak mudah memahami sebab-akibat.
4. Menyukai hal-hal yang berhubungan dengan angka. Anak mudah mengingat angka dan memahami konsep-konsep perhitungan secara sederhana.
5. Senang mengamati berbagai hal atau memerhatikan cara kerja suatu benda. Anak tertarik pada permainan yang menggunakan analisis, strategi, dan pengamatan, seperti main tebak-tebakan, main kartu, pasel, dan sebagainya.
KEMAMPUAN LOGIS-MATEMATIS SI PRASEKOLAH
Nah, berikut ini kemampuan logis matematis yang seyogianya dikuasai anak usia dini (early childhood) dan bagaimana menstimulasinya.
1. Kategorisasi/Penggelompokan
Anak dapat memilah-milah/mengelompokkan/mengategorisasikan segala sesuatu berdasarkan warna, bentuk, ukuran atau lainnya.
Contoh stimulasi:
Minta anak mengelompokkan sedotan—gunakan sedotan warna-warni—sesuai warnanya; mana yang merah, hijau, biru, dan seterusnya. Atau, minta anak menyusun buku-buku ceritanya dari yang kecil/tipis sampai yang ukuran tebal; merapikan koleksi mobil-mobilannya dari yang kecil-kecil hingga yang besar; dan lainnya.
2. Mencocokkan/Menghubungkan
Secara nalar dan logika anak dapat menghubungkan atau mencocokkan suatu sebab-akibat, suatu keadaan dan kondisi tertentu atau mengasosiasikan sesuatu.
Contoh stimulasi:
Lakukan dengan bantuan gambar. Misal, di sebelah kiri ada deretan simbol angka 1, 2, 3, 4, dan 5; di sebelah kanan ada deretan gambar apel dengan jumlah tertentu. Kemudian, minta anak menghubungkan dengan garis antara simbol angka dengan jumlah apel yang sesuai.
3. Komparasi/Perbandingan
Anak bisa membandingkan sesuatu dari banyak hal, apakah itu warna, pola-pola tertentu, bentuk, ukuran, dan lainnya.
Contoh stimulasi:
Letakkan dua atau lebih suatu benda di meja, lalu minta anak menyebutkan mana yang ukurannya lebih kecil atau lebih besar. Bisa juga orangtua meletakkan beberapa gelas berisi air dan minta anak menyebutkan mana yang lebih banyak dan lebih sedikit airnya.
4. Pemahaman Bentuk Geometri
Dapat mengenal bentuk-bentuk geometri sederhana seperti bulat, persegi panjang, segitiga, dan sebagainya.
Contoh stimulasi:
Minta anak menghitung jumlah bentuk segitiga pada sebuah gambar rumah yang sederhana atau menghitung jumlah roda pada alat transportasi seperti becak, sepeda, dan sebagainya.
5. Pemahaman Bilangan (number bond)
Anak terampil mengolah angka dan menggunakan perhitungan matematis. Angka juga suatu simbol yang digunakan untuk berbagai macam hal, apakah itu menunjukkan waktu, ukuran, harga, dan sebagainya. Yang termasuk dalam kemampuan ini adalah:
a. Mengurutkan Bilangan (Membilang)
Dapat membilang atau mengurutkan angka secara bertahap, seperti menyebutkan bilangan 1-5, kemudian sampai 10, dan seterusnya disesuaikan dengan kemampuan anak. Di sini anak juga belajar mengenai konsep dasar angka, dimana angka 1 lebih sedikit jumlahnya dari angka 2, angka 2 lebih sedikit jumlahnya dari angka 3, dan seterusnya. Konsep angka ini juga berguna bagi anak untuk bisa menyatakan waktu, memutar nomor telepon, dan sebagainya.
Cara stimulasi:
Paling mudah lewat nyanyian, seperti lagu, "Satu-satu aku sayang ibu…." Atau, ketika naik turun tangga, minta anak sambil menyebutkan bilangan secara urutan. Bisa juga dengan bantuan benda seperti apel/bola yang dimasukkan ke dalam keranjang, "1 apel, 2 apel, 3 apel,.." Sambil anak diajak menghitung bendanya.
b. Perhitungan Sederhana
Dapat melakukan penjumlahan dan pengurangan sederhana. Konsep perhitungan ini dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari, semisal ketika berbelanja.
Cara stimulasi:
Lakukan lewat nyanyian, seperti, “Satu ditambah satu sama dengan dua. Dua di tambah dua….” atau lagu-lagu lain yang orangtua dapat ciptakan sendiri. Bisa juga dengan mengajak anak bermain “tambah kurang”. Contoh, letakkan beberapa buah kubus mainan si kecil, lalu katakan, “Adek, lihat nih, Ibu punya 1 kubus (sambil meletakkan 1 kubus). Kemudian, Adek memberikan 2 kubus kepada Ibu (sambil meletakkan 2 kubus tersebut di dekat kubus yang pertama). Nah, sekarang kubus Ibu ada berapa, ya? Coba Adek hitung....” Begitu pun dengan pengurangan, namun agar anak mngerti jangan gunakan kata “dikurang” tetapi “diambil
lomba untuk anak
Anak prasekolah belum siap terima kekalahan.
Biasanya, orangtua paling antusias mengikutsertakan anaknya pada suatu lomba, entah itu mewarnai, melukis, menggambar, fashion show, balapan, menyanyi, dan lainnya. Alasannya antara lain memotivasi anak dalam melakukan sesuatu, menguji coba kemampuan, memberi pengalaman, dan ingin anak punya suatu prestasi yang dapat dibanggakan.
Tak heran bila orangtua mempersiapkan sedemikian rupa sang anak untuk dapat ikut lomba dan menang. Sampai-sampai, ada saja orangtua yang mencoba membantu pekerjaan anaknya. Contoh lain, saat lomba pakai kostum, sang anak didandani sedemikian rupa sampai-sampai kesannya berlebihan. Orangtua pun begitu antusias menyemangati anaknya, seolah "didorong" untuk menang.
Tanpa disadari, sebetulnya sikap orangtua seperti itu sedikit banyak bisa menjadi "tekanan" tertentu bagi si anak.
BELUM MATANG
Umumnya anak usia prasekolah belum begitu paham akan tujuan dan makna lomba itu sendiri. Misal, mengapa dia harus melakukan sesuatu secara cepat, mengapa harus mengikuti suatu instruksi yang diberikan pengarah lomba, dan sebagainya. Tetapi karena diiming-imingi hadiah oleh orangtua atau guru, anak mungkin "terpaksa" mengikuti lomba. Atau yang lebih memprihatinkan adalah karena alasan takut dimarahi, maka anak "terpaksa" ikut lomba.
Secara psikis pun sebetulnya anak belum siap untuk lomba atau berkompetisi dengan anak lain. Pasalnya, anak usia ini belum bisa melakukan kegiatan dengan target waktu secara cepat. Umumnya, anak prasekolah lebih nyaman ketika melakukan suatu kegiatan semisal menggambar dalam suasana yang santai, nyaman dan sesuai irama kesanggupan mereka. Dengan begitu, hasilnya bisa optimal, prosesnya pun bisa lebih dinikmati oleh anak. Sedangkan situasi lomba tak memungkinkan anak untuk menikmati proses kegiatan tersebut, tetapi lebih menekankan pada satu hal, yaitu mendapatkan hadiah saja.
Selain itu, anak juga belum siap secara emosi dan sosial dalam menerima kekalahan. Hal ini tak bisa dipungkiri karena dalam lomba, berarti ada yang menang dan ada yang kalah. Ketika anak kalah, berarti dia tidak mendapatkan kebanggaan maupun hadiah. Apalagi jika lomba tersebut diikuti oleh peserta dalam jumlah cukup besar, tentu jumlah anak yang menjadi pemenang lebih sedikit dibanding jumlah anak yang kalah. Orangtua perlu mempertimbangkan hal ini, karena pemahaman orangtua bahwa dengan ikut lomba, anak akan mendapat pengalaman, perlu ditelusuri lagi. Bagaimana jika pengalaman yang didapat anak sering kali tidak sesuai dengan harapan anak? Katakanlah, ada anak yang berkali-kali ikut lomba dan tidak pernah menang. Atau sepuluh kali ikut lomba, menang sekali saja. Tentu ini memiliki dampak tersendiri terhadap konsep diri anak.
Yang memprihatinkan, tak sedikit orangtua yang mengikutkan anaknya lomba dengan tujuan agar si anak mendapatkan pengalaman. Dalam artian, anaknya tidak menang pun tidak apa-apa, yang penting mendapatkan pengalaman. Tapi ini pandangan versi orangtua, kan? Bukan versi anak.
Padahal, buat anak yang tak pernah menjadi pemenang alias sering kalah ini akan berdampak kurang baik terhadap konsep dirinya. Pengaruh negatif yang bisa terjadi adalah ketika orangtua menunjukkan rasa kekecewaannya pada anak saat tidak berhasil mendapat hadiah atau piala; ketika anak lain mengejek kekalahan si anak; dan ketika anak melihat anak lain begitu senang membawa piala sedangkan dirinya tidak membawa apa-apa. Ini semua bisa menjadi pukulan tersendiri bagi anak.Perilaku yang mungkin tampak pada anak antara lain menangis, mengamuk, kecewa, karena ia tidak mendapatkan apa-apa dari apa yang telah dia lakukan dan usahakan. Bahkan bila kekalahan seperti ini sering terjadi berulang maka pengalaman tak menyenangkan yang diperolehnya akan berdampak pada rasa percaya diri anak. Ia menjadi anak yang kurang percaya diri. Anak juga dapat melabel dirinya sebagai anak yang tidak pintar, dan bukan seorang pemenang. Kasihan sekali jika di usia yang masih sangat dini, anak "dibekali pengalaman" yang kurang menyenangkan dan tidak membanggakan.
Hal yang sama juga akan terjadi apabila orangtua mengikutsertakan anaknya lomba dengan tujuan memotivasi diri anak, menguji coba kemampuan si anak atau agar anak berprestasi. Semua tujuan itu tak akan bisa dicapai lewat keikutsertaan lomba individual semacam ini.
Bagaimana dengan anak yang menang? Memang, akan berdampak pada konsep dirinya yang lebih positif, yaitu anak jadi lebih percaya diri. Akan tetapi, jika lingkungan si anak tidak kondusif, dalam arti perilaku anak tidak secara baik didukung, semisal orang tua secara berlebihan memuji kehebatan anak tanpa mengajak anak untuk berempati pada yang tidak menang, maka sisi positif itu pun bisa berubah menjadi negatif. Anak bisa bersikap sombong dengan kemenangan-kemenangan yang diraihnya. Ia pun terbiasa dengan label juara pada dirinya. Tak jarang ketika suatu saat anak mengalami kekalahan, dia akan sangat bersedih dan tak bisa menerima kekalahan tersebut. Hal ini bisa saja terjadi karena memang secara emosi anak usia ini belum matang.
Kalaupun kegiatan lomba diadakan di sekolah dan harus diikuti semua anak, sebaiknya para orangtua maupun guru tetap memberi pilihan terlebih dahulu pada anak, apakah ingin ikut lomba atau tidak. Karena ada pula orangtua yang menginginkan anaknya ikut lomba, padahal anak sebenarnya merasa tidak nyaman. Jika sesekali ingin ikut lomba, ikutkan anak pada lomba kelompok sehingga kekalahan ditanggung bersama dan kemenangan juga hasil usaha bersama. Namun tetap, semua mendapat hadiah karena telah berusaha. Jadi, orangtua harus bersikap kritis terhadap lomba-lomba yang ada. Setting kegiatan yang bisa memotivasi anak, seperti “pesta mewarnai bersama”, “semarak menyanyi bersama”, dan sejenisnya sebagai pengganti lomba yang cenderung melabel seorang anak sebagai pemenang dan pecundang.
TIP IKUT LOMBA
* Tidak memaksa anak. Beri anak pilihan, mau ikut lomba atau tidak. Kegiatan yang dilakukan harus bisa menyenangkan bagi anak.
* Minimalkan ikut lomba-lomba yang kurang mendukung perkembangan anak. Contoh, lomba menggambar yang tidak memerhatikan tahapan menggambar anak seusianya dan menuntut anak lebih dari kemampuannya.
* Berikan alternatif pengganti dengan melakukan kegiatan bersama atau lomba secara berkelompok. Contohnya, mewarnai secara berkelompok dengan berbagai media beragam yang dapat digunakan, menggambar secara berkelompok, berlari estafet, dan sebagainya. Dengan begitu, kemenangan maupun kekalahan ditanggung anak secara berkelompok. Ini merupakan aplikasi dari cooperative learning dimana anak belajar bekerja sama untuk kegiatan yang positif. Jadi, untuk anak usia prasekolah lebih penting memfasilitasinya dengan kegiatan yang dapat membuatnya belajar bekerja sama ketimbang bersaing. Hal ini sesuai dengan landasan perkembangan anak usia ini terutama dalam aspek sosialnya dimana anak belajar untuk bisa lebih bersosialisasi dengan lingkungannya.
* Bisa juga sesekali melakukan "lomba" di rumah bersama anggota keluarga, seperti antara ayah/ibu dengan anak. Kegiatannya dapat dilakukan dalam suasana santai dan anak dapat menikmati proses lombanya.
* Berikan hadiah yang sama kepada semua anak yang ikut terlibat dalam kegiatan berprestasi bersama. Beri anak hadiah atas usaha dan semangat mereka dalam ikut kegiatan tersebut, bukan karena hasil/produk akhir dari kegiatan yang dilakukannya saja. Dengan demikian ketika anak pulang ke rumah membawa hadiah, tiap anak yakin dirinya adalah pemenang dengan kelebihannya masing-masing. Tentunya ini akan berdampak positif untuk perkembangan anak selanjutnya.
MENYIKAPI KEKALAHAN ANAK
Jika orangtua sudah telanjur mengikutsertakan anaknya pada lomba tanpa memerhatikan perkembangan emosi anak, maka ketika anak mengalami kekalahan, orangtua harus memberikan penjelasan pada anak. Katakan bahwa orangtua tetap yakin anaknya pintar dan juga sang juara bagi orangtuanya, sekalipun ia tak mendapatkan piala atau hadiah. Yakinkan pula bahwa jika si anak kelak sudah besar, dia pun bisa menjadi pemenang. Semangat dan optimisme orangtua terhadap anak perlu diekspresikan selama hal tersebut sesuai dengan perkembangan anak.Jika anak yang kalah ini menangis/merengek minta dapat hadiah/piala juga, orangtua perlu merangkul anak dan berkompromi tentang hal ini. Wujud komprominya bisa beragam tergantung kesepakatan orangtua dan anak. Misal, ”Adek enggak perlu menangis. Buat Ibu, Adek juga pemenang karena sudah berusaha. Jadi, nanti hadiahnya Ibu kasih di rumah saja, ya.”
KAPAN SIH ANAK SIAP IKUT LOMBA?
Yakni ketika usia anak 8 tahun ke atas, karena secara emosi dia mulai mengerti konsep kalah dan menang serta mulai bisa menerima kekalahan meski belum sepenuhnya. Sebaiknya, orangtua tetap memilihkan lomba-lomba yang bisa diikutinya secara berkelompok. Sesekali secara bertahap ikut lomba yang bersifat perseorangan. Bagaimana pun juga orangtua harus ingat bahwa orang dewasa pun belum tentu siap mental untuk menerima kekalahan, apalagi anak yang memungkinkan mengalami kekalahan itu dialaminya berulang-ulang. Jadi, perlakukan anak dengan wajar dan usahakan konsep serta harga diri mereka terbina dengan baik.
emosi anak
Perkembangan emosi terkait dengan perkembangan perasaan.
Perkembangan emosi dimulai sejak anak lahir terus sampai anak menjadi besar. Awalnya, kemampuan anak dalam mengekspresikan perasaannya masih terbatas. Ketika baru lahir anak hanya bisa menunjukkan perasaan senang dan tidak senang. Perasaan tidak senang ditunjukkannya dengan perilaku rewel atau menangis. Ketidaksenangannya bisa karena lapar, kedinginan, kepanasan, sakit, dan sebagainya. Sedangkan perasaan senang ditunjukkannya dengan perilaku tenang, tersenyum, menyuarakan bunyi-bunyi seperti bentuk tertawa, dan sebagainya. Perasaan senang ini karena ia merasa nyaman, kenyang, dan lainnya.
Seiring bertambah usia, anak banyak belajar dan mengembangkan emosinya melalui pengalaman dalam berinteraksi dengan orang-orang di sekelilingnya. Perbendaharaan emosi anak bertambah, tidak lagi terbatas pada emosi senang dan tidak senang saja, anak juga sudah mampu mengekspresikan emosi lainnya seperti takut, iri hati, cemburu, sedih, gembira, cemas, dan sebagainya. Umumnya, di akhir usia batita atau sekitar usia 2 tahun, perbendaharaan emosi yang dimiliki anak sudah sama seperti emosi yang ada pada orang dewasa. Artinya, jika orang dewasa bisa marah, anak pun bisa marah; orang dewasa bisa iri, anak pun bisa iri, dan sebagainya.
BEDA ANAK DAN DEWASA
Perbedaan antara emosi orang dewasa dan anak adalah dalam hal stabilitasnya. Pada orang dewasa, perubahan dari satu emosi ke emosi lain umumnya tidak terjadi dalam waktu cepat. Contoh, orang dewasa yang sedang marah tidak bisa segera menjadi senang atau gembira kembali. Sedangkan pada anak, perubahan dari satu emosi ke emosi lainnya bisa terjadi dengan cepat sekali. Misal, ketika sedang senang-senangnya bermain, bisa saja ia tiba-tiba berubah marah dan menangis kencang ketika mainannya direbut teman. Atau, ketika anak yang sedang menangis kencang diberi es krim, tangisnya bisa berhenti seketika dan ia langsung tertawa riang.
Disamping stabilitas emosi, perbedaan lainnya adalah dalam pengendalian emosi. Orang dewasa diharapkan lebih mampu mengendalikan emosinya pada waktu, tempat, dan dengan cara yang tepat. Sementara anak belum bisa mengendalikan emosinya dengan baik. Ketika keinginan anak tak dipenuhi, dia akan marah dan menangis tak peduli sekalipun saat itu berada di keramaian atau tempat umum. Begitu pun caranya mengekspresikan amarah dengan memukul, membanting, dan sebagainya tanpa ia merasa malu ditonton banyak orang.
BANYAK PENGARUH
Pada dasarnya, perkembangan emosi dipengaruhi perkembangan beberapa aspek seperti fisik-motorik, kognitif, maupun sosial. Sifat bawaan atau temperamen anak, serta pola asuh dan lingkungan sosial tempat anak dibesarkan juga berpengaruh terhadap perkembangan emosinya.
Perkembangan kognitif berpengaruh terhadap keberlangsungan proses belajar anak. Ketika kemampuan berpikirnya sudah semakin berkembang, anak semakin paham terhadap harapan lingkungannya. Misal, ia tahu bahwa bila marah tidak boleh memukul atau membanting barang, karena akan merugikan orang lain. Atau, kalau dulu ia takut dan menangis tiap kali lihat badut, semakin besar ia tahu bahwa badut tidak berbahaya sehingga ia tidak perlu takut dan menangis lagi.
Di sisi lain, lingkungan sosialnya mengajari anak bagaimana cara mengekspresikan emosi sesuai dengan harapan lingkungan. Pada kenyataannya ekspresi perasaan seseorang tidak semata-mata dipengaruhi oleh pemahaman secara kognitif. Namun, yang lebih penting adalah latihan mengelola perasaan agar dapat diekspresikan sesuai waktu, tempat, dan cara yang bisa diterima lingkungan. Lingkungan sosial memang banyak berperan dalam membantu anak melatih dan mengelola emosinya dengan baik
Rabu, 18 Juni 2008
Penerapan Teknologi Informasi Pada Perpustakaan IAIN Walisongo Semarang
Untuk menikmati layanan penuh perpustakaan digital IAIN Walisongo ini, pengguna harus menjadi anggota. Kalau pengguna tidak menjadi anggota, hanya bisa menelusur dan melihat abstrak dari dokumen yang ada. Untuk bisa mendownload file lengkap (full text) Silahkan registrasi. Caranya gampang dan tidak perlu pakai biaya, cukup klik link Registrasi di kolom bagian kiri. Selanjutnya pengguna diminta mengisi formulir.Petunjuk Pengisian Formulir
E-mail:
Isi alamat e-mail yang akan gunakan sebagai account untuk layanan digital library. Yang perlu diingat adalah email yang dimasukkan harus benar-benar valid. Artinya, email tersebut masih aktif dan pengguna benar-benar memiliki akses penuh ke e-mail tersebut, karena konfirmasi yang berisi kode aktivasi keanggotaan akan terkirim ke e-mail yang dimasukkan tersebut. Misalnya (ana-afida@yahoo.com, atau ana-afida@gmail.com dst.). Kalau e-mail tidak valid (tidak aktif), tentu pengguna tidak akan pernah memperoleh kode aktivasi.
Password:
Isi dengan password yang akan digunakan. Perlu dicatat, password yang dimasukkan adalah password untuk layanan digital library. Password tidak harus sama dengan password account e-mail pengguna. Pengguna boleh menggunakan password yang sama dengan account e-mail tapi juga boleh password baru. Yang penting adalah pengguna jangan sampai lupa password yang telah dimasukkan. Permintaan keanggotaan dengan account e-mail yang sama secara otomatis akan diabaikan. Kalau pengguna lupa password, lebih baik mendaftar dengan e-mail account baru. Berarti pengguna harus membuat alamat e-mail baru atau menggunakan account e-mail lain yang dimiliki.
Confirm Password:
Isi sama persis dengan yang diisikan pada kotak Password sebelumnya.
Nama Lengkap:
Isi dengan nama lengkap pengguna. Usahakan nama yang sebenarnya. Misalnya: Miswan, Bahrul Ulumi, Ana Afida dst.
Alamat & Phone:
Isi dengan alamat atau domisili serta nomor telpon / handphone kalau ada. Misalnya: Jl. Prof. Hamka Km. 2 Ngaliyan, telp. 024-7603921.
Kota:
Isi dengan kota atau kabupaten tempat tinggal. Misalnya: Semarang, Tegal, dll.
Negara:
Isi dengan nama negara. Misalnya: Indonesia, Malaysia, Brunei dll.
Institusi:
Isi dengan nama lembaga tempat pengguna bekerja atau bisa juga diisi dengan nama sekolah, pondok dsb. Misalnya: Perpustakaan IAIN Walisongo, Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo, Pondok Pesantren Darul Ulum, dsb.
Pekerjaan:
Pengguna bisa memilih salah satu jenis pekerjaan yang sesuai dengan mengklik pada tombol panah di bagian kanan ruas yang tersedia.
Mau Menerima K-Alert?:
Pengguna cukup klik salah satu pilihan Ya atau Tidak.
Langkah terakhir Pengguna cukup klik tombol Submit.
Apabila pengguna telah klik tombol submit, kemudian ada ruas yang ditandai Merah, berarti ada isian yang salah atau kosong, pengguna harus memperbaikinya. Apabila sudah tidak ada masalah, pengguna tinggal menunggu kode aktivasi yang akan terkirim ke alamat e-mail yang telah dimasukkan. Setelah itu coba buka alamat e-mail yang dipakai sebagai account untuk layanan perpustakaan digital. Periksa pada kotak masuk atau inbox. Apabila di
Email yang akan Anda terima kurang lebih seperti ini:
AGRI/JTPTIAIN
Institut Agama Islam Negeri Walisongo
------------------------------------------------
2005-12-10 10:22:21
Dear Miswan,
You have completed our membership registration form with
the following information:
Fullname : Miswan
Email/your loginID : miswan@gmail.com
Address : Bukit Jatisari Asri A1/3 Mijen
City :
Country :
Institution : Perpustakaan IAIN Walisongo
Job type : 9
Receive news letter : 0
VALIDATION NUMBER : 1134184941
You need to activate your membership by following this URL:
http://library.walisongo.ac.id/activate.php?account=miswan@gmail.com&vn=1134184941
If you find any problem in activation, please do not
hesitate to contact us. Thank you for joining us.
Best regards,
Institut Agama Islam Negeri Walisongo
Chief Knowledge Officer
Email: miswant@yahoo.com
-----------------------------------
Sent by GDL Version 4.0
Yang perlu Anda perhatikan adalah kode aktivasi (pada contoh di atas: VALIDATION NUMBER : 1134184941)yang Anda terima. Kode angka 10 digit itulah kode aktivasi untuk mengaktifkan keanggotaan Anda. Aktivasi keanggotaan cukup dilakukan sekali. Anda bisa isikan ketika Anda mau download dan diminta aktivasi. Namun yang lebih gampang adalah aktivasi langsung ketika Anda menerima email seperti di atas. Caranya klik pada link di bawahnya (seperti di bawah ini):
http://library.walisongo.ac.id/activate.php?account=miswan@gmail.com&vn=1134184941
Setelah diklik, klik lagi tombol Activate.
Download File
Apabila pengguna telah menemukan koleksi yang sesuai dengan kebutuhan, kemudian pengguna berminat untuk mendownload file yang bersangkutan, maka cukup klik pada nama file dengan gambar icon PDF di sisi kanan layar. Setelah diklik, dan pengguna sudah login sebelumnya, maka secara otomastis akan diredirect pada file tersebut. Jika terjadi error atau broken link, silahkan kontak kami. Tetapi bila pengguna belum login akan tampil kotak dialog yang meminta memasukkan account serta password pengguna.
Kalau pengguna sudah mendaftar dan sudah memiliki account aktif (sudah aktivasi), pengguna tinggal mengisi form yang ada. Account dan password yang dimaksud disini adalah account alamat e-mail dan password yang dimasukkan saat registrasi. Kalau pengguna belum registrasi, pengguna bisa klik tanda panah hijau atau tulisan Registrasi. Selanjutnya akan diminta mengisi formulir yang ada.
Apabila file sudah tampil di layar, pengguna tinggal langsung print atau menyimpan pada media yang sesuai (disket, flashdisk, atau harddisk). Yang perlu diketahui adalah bahwa file yang tampil adalah file PDF (Portable Document Format) yang dibuka di dalam browser, sehingga cara download atau menyimpannya adalah dengan cara klik pada gambar disket pada toolbar PDF reader, biasanya berada di bagian kiri atas. Catatan, tentunya di komputer harus sudah terinstall program PDF reader atau viewer, umumnya adalah Adobe Acrobat Reader.
Jumat, 06 Juni 2008
kisahku
sekitar satu tahun yang lalu aku di panggil oleh pimpinanku, dan aku diminta untuk mengikuti kuliah si ganda dalam bidang ilmu perpustakaan dan informasi.Waktu itu aku tidak bisa menjawab iya atau tidak, karena harus minta pendapat keluarga berkenaan dengan masalah kuliah tersebut.Pada mulanya keluarga aga berat ketika aku harus kuliah di jakarta dalam waktu yang tidak sebentar.permasalahannya anakku sudah sekolah meski baru di tingkat TK. Karena kalau sekolah di jakarta anakku tentunya biaya lebih besar.Tapi dengan berbagai pertimbangan untuk masa depan aku dan anak-anakku akhirnya keluarga merestui kepergianku untuk menambah ilmu yang ada kaitannya dengan pekerjaanku.
Pada awal perkuliahan terasa sangat melelahkan, karena jarak tempuh dari rumah kakakku sampai kampus memakan waktu kurang lebih 2 jam karena lokasinya ada di Bogor. Tapi Alhamdulillah dari rumah ke kampus ada mobil-mobil pribadi yang bersedia membawa aku dan orang-orang yang ada disekitar perumahan dimana aku tinggal. Aku harus berangkat jam 6 pagi dan harus pulang jam 7 malam.
Dengan berjalannya waktu sampailah aku untuk ujian akhir. Aku harus berusaha untuk bisa mendapat hasil yang memuaskan dan Alhamdulillah aku bisa lulus semua mata kuliah yang aku ambil.
Dan saat ini aku lagi mau menghadapi ujian akhir semester genap yang akan dilangsungkan dengan kegiatan Praktek Kerja Lapangan (PKL). Dan aku dapat tempat PKL di BPPT Jl. Thamrin Jakarta yang akan berlangsung dari tanggal 7 juli 2008 sampai 16 Agustus 2008.Setelah itu aku harus bisa mengikuti ujian skripsi yang dijadwalkan sampai akhir Agustus 2008.
Demikianlah perjalanan aku di Jakarta meskipun masih banyak sekali kenangan yang aku dapat dari kehidupanku selama kuliah di jakarta. Aku minta doa restu pembaca blog semoga aku sukses dalam perjalanan cita dan cintaku. AMIIIIN.
Senin, 28 April 2008
Data Pribadi
Nama : Ana Afida
Tempat /Tanggal Lahir : Purworejo, 22 Pebruari 1972
Pekerjaan : Staf Perpustakaan IAIN Walisongo
Semarang Jawa Tengah
Status : Masih Singel
Sekarang lagi ditugasbelajarkan untuk kuliah S1 Ganda Departemen Agama pada Universitas
YARSI Jakarta. Setelah tiba di Jakarta dan bertemu dengan teman-teman yang berasal dari
daerah lain, rasanya senang sekali. Apalagi utusan MAN 5 Jakarta yang bernama Kuntoro menambah serunya perkuliahan kami setiap hari. Apabila kita pulang kuliah terkadang kita
sempatkan waktu jalan-jalan dengan teman ke tempat-tempat wisata yang ada dekat dengan
ibukota Jakarta. Misalnya Monas, Ancol, Ragunan dan sebagainya.
Jumat, 11 April 2008
menjadi orang tua tunggal
berawal dari kepulangan aku dari tugas kantor untuk mengikuti tugas pelatihan tenaga teknis pustakawan tingkat ahli yang di selenggarakan oleh IAIN Sunan Ampel Surabaya selama 4 hari. Saat itu aku bawa 2 anakku, pembantu dan ibuku. Suamiku tinggal sendiri di rumah karena nggak mungkin kalau ikut ke Surabaya. Dari Surabaya aku langsung pulang ke rumah orang tuaku di Purworejo dan suamiku sudah menjemput aku di Purworejo juga.
Sekembalinya ke Semarang kebetulan pembantu nggak langsung ikut aku karena masih kangen dengan keluarganya, otomatis suamiku harus gantian nunggu anak-anak ketika aku pergi ke kantor. Saat itu suamiku mengeluh rasanya lemas, letih dan lesu. Kemudian dia minta aku belikan obat sakatonik liver katanya biar segar. Namun lama kelamaan ketika aku perhatikan suamiku badannya tambah kurus dan pucat. Kemudian aku ajak dia berobat tapi selalu ditolak karena nggak perlu. Dia bilang hanya istirahat yang aku butuhkan. Namun demikian tiap saat aku selalu perhatikan dia dan terakhir aku paksa untuk perikasa ke dokter. Dengan terpaksa mau dan oleh dokter dianjurkan untuk cek darah di laboratorium. Dan ternyata suamiku levernya bermasalah. Pada saat itu juga dokter menganjurkan untuk opname. Tapi suamiku orangnya anti rumah sakit, katanya nanti bisa stress. Akhirnya aku ikut aja apa kata suami. Dia minta obat jalan dan setelah satu minggu berobat dia minta pulang ke rumah orang tuany di Moga Pemalang karena disana ada orang yang bisa mengobati dan suamiku cocok.
Setelah 1 minggu aku tunggu di moga terpaksa aku pulang ke semarang dengan 2 anakku dan pembantu karena aku harus masuk kantor setelah aku ijin 1 minggu. Seminggu kemudian aku tengok dia, tapi ternyata kondisi suamiku tambah drop. Dan saat itu semua keluarga suamiku menganjurkan sekaligus memaksanya untuk dirawat di rumah sakit. Suamiku bersedia tapi harus di rawat di rumah sakit Semarang. Saat itu juga aku langsung telpon teman kantor untuk menjemput aku dan suamiku.
Tepat tanggal 8 agustus 2004 aku dan suami dengan diantar oleh orang tua dan kakaknya langsung menuju Rumah sakit tepatnya di RS Tugu Semarang. saat itu pikiranku kalut sekali karena anakku yang kecil aku ajak dan menangis terus mungkin anakku ikut merasakan sakit ayahnya. Setalah segala administrasi selesai aku pulang ke rumah untuk menjemput anakku yang besar karena ayahnya sudah kangen untuk melihatnya.
Setelah 3 hari di rawat saat itu hari rabu,dokter minta suamiku untuk USG dan ternyata hasilnya hati suamiku sudah sirosis. Terus dokter menganjurkan untuk di cek darah lagi untuk mengetahui apakah dalam hati/lever suamiku ada kanker atau tidak. Dan ternyata hasil laborat di ketahui suamiku terkena kanker hati dan sudah stadium lanjut. Saat itu pihak RS merujuk suamiku untuk masuk ICU karena saat itu suamiku sudah kehilangan kesadaran. Namun aku tolak karena aku nggak mau nanti aku nggak bisa menunggu setiap saat. Akhirnya dokter mengijinkan untuk tidak dipindah di ruang ICU. Dan pada tanggal 16 agustus 2004 jam 12.10 menit suami, ayah tercinta menghembuskan nafas untuk meninggalkan kami semua. Pagi harinya semua keluarga, tetangga dan teman kantor ikut mengantar jenazah suamiku ke Moga pemalang di tanah kelahiranny. Selamat jalan suamiku semoga engkau tenang di alam sana. AMIIN