10 TIPS BUAT ANAK AGAR CINTA PUASA
1. Hindari pemberian aneka label negatif kepada anak seperti "pemalas", "durhaka, "dosa, lo", "cengeng’, dan lain-lain. Itu tidak akan membuat anak jera untuk membatalkan puasanya, sebaliknya anak justru semakin tertekan dan mengikuti "label"-nya. Ingat, anak cenderung berperilaku sesuai dengan label yang diberikan.
2. Tindakan memarahi, memaksa, kekerasan, ancaman ataupun tekanan, menakut-nakuti dengan neraka dan dosa tidak akan membuat anak giat berpuasa, justru semakin membuat anak menolak puasa. Selain itu, anak juga akan melihat, ibadah agama identik dengan kekerasan dan hal-hal yang menakutkan.
3. Bangun komunikasi yang hangat dan terbuka dengan anak. Ketahui apa saja penyebab anak tidak berpuasa, apakah karena ketidakmampuan, kurangnya pembiasaan, motivasi, atau ada faktor lain seperti mencari perhatian. Siapa tahu anak tidak mau puasa karena mencari perhatian orangtuanya. Jika itu terjadi, segera luangkan waktu untuk memenuhi keinginan anak, beri juga perhatian yang cukup.
4. Bangun suasana keagamaan yang kondusif di rumah. Jelaskan apa saja nilai-nilai yang harus diamalkan, apa pula yang tidak. Lakukan hal ini dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, anak terbiasa menjalankan ritual ibadah, termasuk puasa.
5. Beri pengertian tentang pentingnya puasa. Ini dapat dilakukan lewat pembelian buku cerita yang berkaitan dengan puasa, kisah-kisah para nabi dalam bentuk disc, lalu ajak anak untuk menonton bersama. Perlihatkan dan ceritakan bagaimana perjuangan nabi saat harus berpuasa, juga buah manis yang didapat seusai berpuasa. Penanaman lewat cerita akan sangat berbekas buat anak.
6. Hari-hari pertama puasa merupakan waktu terberat bagi anak. Kehadiran orangtua di saat itu dapat membantu anak menjalani puasa dengan lebih mudah. Ambillah waktu cuti 2-3 hari atau kalau tak memungkinkan hadirlah di rumah lebih awal sebelum magrib.
7. Libatkan anak pada hal-hal menyenangkan saat berpuasa. Anak biasanya menyenangi waktu ngabuburit, aneka makanan lezat yang terhidang saat sahur atau berbuka, juga suasana ramai saat berbuka atau sahur. Agar mau berpuasa, libatkan anak pada pilihan menu berbuka/sahur, jangan bangunkan sahur dengan cara kasar, ajak anak pada aktivitas keagamaan seperti pergi Tarawih, salat subuh di masjid, dan sebagainya.
8. Lakukan puasa secara bertahap. Memang, anak usia ini seharusnya sudah mampu berpuasa secara penuh. Namun jika belum mampu, tidak ada salahnya dilakukan secara bertahap. Puasa sampai beduk zuhur dulu, kemudian asar, lalu tingkatkan hingga magrib. Biarkan saja bila dalam satu bulan masih banyak bolongnya, yang penting terus tingkatkan sehingga bolongnya berkurang atau bahkan tidak ada.
9. Semangati anak saat berpuasa. Dengan begitu, anak akan mampu berpuasa sehari penuh. Bila ada tanda-tanda anak akan berbuka tengah hari, upayakan untuk tetap bertahan dengan mengajaknya melakukan aktivitas menyenangkan, sehingga ia tak terlalu merasakan laparnya. Namun bila memang anak tidak kuat untuk bertahan, tampak sangat lemas, lemah dan pucat, bibir kering sekali, maka izinkan saja bila dia mau berbuka.
10. Jangan lupa, untuk menghargai usahanya dalam berpuasa, berapa pun lamanya. Terlebih jika anak berhasil puasa sehari penuh, beri dia pujian dan semangat untuk bisa melakukannya kembali.
Selasa, 25 November 2008
Melatih Kedisiplinan Anak
Penanaman disiplin memang harus konsisten. Namun, bagaimana kalau anak malah jadi tak fleksibel?
Saya termasuk orang yang tertib dalam memberlakukan kebiasaan pada anak. Setiap pulang dari bepergian atau habis main dari luar, anak harus cuci kaki, tangan, dan muka, lalu ganti baju. Makan dan minum pun harus menggunakan piring dan gelas khusus milik mereka sendiri. Saya berharap dapat menanamkan disiplin dan kebiasaan yang baik sejak anak masih kecil.
Masalahnya, tanpa saya sadari, rutinitas tersebut ternyata malah membuat anak saya jadi enggak fleksibel. Suatu pagi, pernah saya membantu si kecil melepaskan pakaiannya sebelum mandi. Karena terburu-buru, saya lupa kalau selama ini dia terbiasa melepaskan celananya duluan baru kemudian bajunya. Nah, pagi itu, terbalik, bajunya dulu yang saya lepaskan. Jadilah dia marah-marah dan minta dipakaikan bajunya kembali. Saya sudah jelaskan, enggak apa-apa buka baju dulu baru celana, tapi dia tetap protes dan malah ngamuk. Apa boleh buat, saya terpaksa memakaikan bajunya kembali dan kemudian melepaskannya sesuai "prosedur".
Soal keramas dan mandi pun kami pernah ribut. Ia terbiasa keramas dulu baru pakai sabun. Kalau ritualnya dibalik, dia takkan mau. Pokoknya, jadi merepotkan deh! Saya sama sekali enggak nyangka kalau rutinitas yang saya tanamkan itu akhirnya malah jadi bumerang buat saya.
BERBAGAI ALASAN
Masalah ini lantas saya curahkan kepada seorang psikolog anak. Namanya, Yelia Dini Puspita, M.Psi., dari Lembaga Psikologi Terapan UI. Ternyata, menurutnya, bukan anak saya saja yang punya perilaku seperti itu. Alasannya, sebagian anak usia prasekolah mulai menguasai berbagai aktivitas tertentu yang terbentuk melalui proses pembiasaan. Sikap kaku terhadap suatu kebiasaan wajar terjadi sampai usia sekitar 4 tahun. "Kebiasaan atau ritual yang kaku itu umumnya berkaitan dengan aktivitas sehari-hari, seperti ritual makan, berpakaian, dan mandi. Namun juga bisa meluas pada kebiasaan bermain maupun mengatur benda-benda miliknya," kata Yelia.
"Mungkin karena saya terlalu tertib ya, Mbak, dalam menerapkan rutinitas itu?" tanya saya.
"Memang, penerapan disiplin dari orangtua yang bersifat kaku, bisa menjadi penyebabnya. Segala rutinitas harus dilakukan dengan prosedur tertentu, baik dalam waktu maupun cara pelaksanaannya. Hal tersebut membentuk kebiasaan yang kuat pada anak dan diadopsi olehnya sehingga menimbulkan tingkah laku ritual yang kaku pula. Tanpa disadari, anak sudah telanjur nyaman dengan tata cara yang berulang, bersifat rutin, dan dapat diprediksi. Perhatian khusus perlu diberikan jika selewat usia 4 tahun, anak masih sangat kaku pada tata cara tertentu dalam beraktivitas. Kalau dibiarkan, ia dapat berkembang menjadi pribadi yang tidak fleksibel dalam menghadapi berbagai hal," jawab Yelia.
"Ada sebab lainnya lagi tidak?" tanya saya kembali.
"Biasanya hal ini juga berkaitan dengan karakter anak. Anak-anak yang mengarah pada karakter perfeksionis, umumnya melakukan segala sesuatu sesuai dengan prosedur atau ritual dan tahapan yang relatif sama agar mendapatkan hasil yang ‘sempurna’ baginya, sehingga akhirnya terbentuklah tingkah laku ritual yang kaku pada anak."
"Mungkin enggak karena anak ingin cari perhatian ayah bundanya?"
"Mungkin sekali, karena anak sangat menikmati perhatian dari orangtuanya. Kalau yang ini mudah sekali terlihat karena terjadinya hanya di saat-saat tertentu saja. Misal, ketika ibu atau ayahnya ada waktu untuk menemaninya mandi, bermain, dan lainnya. Sebab lainnya berkaitan dengan pola pikir yang rigid atau kaku dan adanya tindakan yang bersifat repetitif atau berulang. Umumnya dialami oleh anak dengan gangguan perkembangan, semisal autisma. Tentu saja anak seperti ini perlu penanganan khusus untuk menanggulanginya."
POSITIF-NEGATIF
Sebenarnya, kata Yelia, perilaku tersebut wajar-wajar saja, selama tidak sampai menyusahkan. "Umumnya, semakin bertambah usia anak, maka keterampilan sosialnya juga akan bertambah, sehingga kebiasaan yang kaku ini semakin lama semakin berkurang dan akan menghilang dengan sendirinya tanpa intervensi khusus. Kecuali pada anak yang memang mengalami gangguan perkembangan."
Akan tetapi, lanjut Yelia, bukan berarti orangtua tak perlu membantu. "Kebiasaan kaku ini akan berangsur berkurang hanya bila tidak mendapatkan penguatan dari lingkungan. Jika orangtua justru memperkuat kebiasaan yang kaku tersebut, entah dengan membiarkan, selalu menuruti keinginan anak, maupun tidak memberikan penjelasan pada si anak, maka kebiasaan kaku tersebut akan tampil lebih kuat."
Kerugiannya, sikap kaku yang berlebihan tanpa disertai fleksibilitas akan menyulitkan anak dalam beradaptasi dengan hal-hal baru. Hal ini juga menghambatnya dalam berinteraksi sosial dengan orang lain. Namun, bukan berarti menanamkan kebiasaan secara teratur itu salah. Buah positifnya juga ada. Antara lain, anak dapat mengembangkan disiplin dan keteraturan dalam bertindak, serta terbiasa melakukan perencanaan. Lebih jauh lagi, anak dapat melakukan antisipasi terhadap hal-hal yang mungkin akan terjadi. Karenanya, orangtua pandai-pandailah mengatur ritme penerapan aturan dan bersikap fleksibel di saat-saat darurat.
VARIASI, DONG...
"Kalau sudah telanjur, apa yang harus dilakukan, Mbak?" tanya saya segera.
"Orangtua harus peka terhadap kebutuhan dan karakter anaknya, ini yang pertama. Peka terhadap kebutuhan, antara lain dengan mengenali alasan yang menyebabkan anak melakukan tindakan tersebut. Orangtua harus berusaha untuk memahami karakter dan pola tingkah laku anak, serta proses pembiasaan yang terjadi. Kemudian berusaha berempati dan tidak memaksanya mengubah kebiasaan. Dukungan serta sikap yang konsisten lebih diperlukan anak agar merasa lebih aman, sehingga dapat membentuk rasa percaya diri dan pada akhirnya tindakan ritual tersebut akan hilang dengan sendirinya. Kalau memang karakternya perfeksionis, maka anak perlu dipersiapkan dalam menghadapi segala aktivitasnya, terutama yang di luar kebiasaan. Beritahukan atau jelaskan terlebih dahulu apa yang akan terjadi atau dilakukan oleh si anak di luar dari kebiasaannya itu," kata Yelia.
Sebetulnya, anak-anak yang memang mudah menyesuaikan diri biasanya tak terlalu terganggu bila melakukan rutinitas di luar jalurnya. Dalam kondisi terburu-buru, tak masalah jika handuknya dipakai terbalik, atau jika dibantu dipakaikan sepatunya sebelah kiri dulu padahal biasanya kanan. "Anak seperti ini dapat dengan cepat mengatasinya. Bahkan, beberapa anak justru merasa senang dan tertarik menghadapi ‘hal baru’ tersebut," lanjut Yelia.
"Namun fleksibel bukan berarti berubah-ubah, lo. Fleksibel adalah kemampuan beradaptasi secara cepat terhadap perubahan yang terjadi," tambahnya segera. "Bagaimanapun, dalam menerapkan disiplin, orangtua harus tetap konsisten. Kalau tidak konsisten atau berubah-ubah justru dapat menimbulkan kebingungan dan membuat anak merasa tidak nyaman. Hanya saja dalam pembiasaan yang konsisten tersebut selipkan juga variasi ritual yang dapat orangtua berikan dalam momen-momen tertentu. Sesekali, ajaklah anak makan sambil piknik di halaman. Tapi kalau anak tidak mau, ya jangan dipaksa. Biarkan saja dia tetap melakukan ritualnya sambil diberikan penjelasan mengenai variasi ritual yang bisa ia lakukan. Selain itu, orangtua juga perlu introspeksi akan sikapnya selama ini apakah dalam penerapan disiplin bersifat kaku ataukah cukup fleksibel."
Sedangkan bila penyebabnya adalah si anak cari perhatian, menurut Yelia, kembali lagi orangtua perlu peka terhadap kebutuhan anak. Selain juga perlu ditelaah apakah cari perhatian tersebut mengarah pada kurangnya kebersamaan dengan anak, atau merupakan aksi protes anak terhadap penerapan disiplin yang dilakukan orangtua. Ada baiknya orangtua melakukan introspeksi, kemudian memperbaiki diri serta memberikan perhatian sesuai dengan kebutuhan anaknya.
Kini saya bisa bernapas lega. Setidaknya, saya jadi paham, mengapa buah hati saya sampai "sekaku" itu. Tentu saja saya juga harus berubah kalau tidak ingin si kecil kelak benar-benar menjadi pribadi yang kaku.
Saya termasuk orang yang tertib dalam memberlakukan kebiasaan pada anak. Setiap pulang dari bepergian atau habis main dari luar, anak harus cuci kaki, tangan, dan muka, lalu ganti baju. Makan dan minum pun harus menggunakan piring dan gelas khusus milik mereka sendiri. Saya berharap dapat menanamkan disiplin dan kebiasaan yang baik sejak anak masih kecil.
Masalahnya, tanpa saya sadari, rutinitas tersebut ternyata malah membuat anak saya jadi enggak fleksibel. Suatu pagi, pernah saya membantu si kecil melepaskan pakaiannya sebelum mandi. Karena terburu-buru, saya lupa kalau selama ini dia terbiasa melepaskan celananya duluan baru kemudian bajunya. Nah, pagi itu, terbalik, bajunya dulu yang saya lepaskan. Jadilah dia marah-marah dan minta dipakaikan bajunya kembali. Saya sudah jelaskan, enggak apa-apa buka baju dulu baru celana, tapi dia tetap protes dan malah ngamuk. Apa boleh buat, saya terpaksa memakaikan bajunya kembali dan kemudian melepaskannya sesuai "prosedur".
Soal keramas dan mandi pun kami pernah ribut. Ia terbiasa keramas dulu baru pakai sabun. Kalau ritualnya dibalik, dia takkan mau. Pokoknya, jadi merepotkan deh! Saya sama sekali enggak nyangka kalau rutinitas yang saya tanamkan itu akhirnya malah jadi bumerang buat saya.
BERBAGAI ALASAN
Masalah ini lantas saya curahkan kepada seorang psikolog anak. Namanya, Yelia Dini Puspita, M.Psi., dari Lembaga Psikologi Terapan UI. Ternyata, menurutnya, bukan anak saya saja yang punya perilaku seperti itu. Alasannya, sebagian anak usia prasekolah mulai menguasai berbagai aktivitas tertentu yang terbentuk melalui proses pembiasaan. Sikap kaku terhadap suatu kebiasaan wajar terjadi sampai usia sekitar 4 tahun. "Kebiasaan atau ritual yang kaku itu umumnya berkaitan dengan aktivitas sehari-hari, seperti ritual makan, berpakaian, dan mandi. Namun juga bisa meluas pada kebiasaan bermain maupun mengatur benda-benda miliknya," kata Yelia.
"Mungkin karena saya terlalu tertib ya, Mbak, dalam menerapkan rutinitas itu?" tanya saya.
"Memang, penerapan disiplin dari orangtua yang bersifat kaku, bisa menjadi penyebabnya. Segala rutinitas harus dilakukan dengan prosedur tertentu, baik dalam waktu maupun cara pelaksanaannya. Hal tersebut membentuk kebiasaan yang kuat pada anak dan diadopsi olehnya sehingga menimbulkan tingkah laku ritual yang kaku pula. Tanpa disadari, anak sudah telanjur nyaman dengan tata cara yang berulang, bersifat rutin, dan dapat diprediksi. Perhatian khusus perlu diberikan jika selewat usia 4 tahun, anak masih sangat kaku pada tata cara tertentu dalam beraktivitas. Kalau dibiarkan, ia dapat berkembang menjadi pribadi yang tidak fleksibel dalam menghadapi berbagai hal," jawab Yelia.
"Ada sebab lainnya lagi tidak?" tanya saya kembali.
"Biasanya hal ini juga berkaitan dengan karakter anak. Anak-anak yang mengarah pada karakter perfeksionis, umumnya melakukan segala sesuatu sesuai dengan prosedur atau ritual dan tahapan yang relatif sama agar mendapatkan hasil yang ‘sempurna’ baginya, sehingga akhirnya terbentuklah tingkah laku ritual yang kaku pada anak."
"Mungkin enggak karena anak ingin cari perhatian ayah bundanya?"
"Mungkin sekali, karena anak sangat menikmati perhatian dari orangtuanya. Kalau yang ini mudah sekali terlihat karena terjadinya hanya di saat-saat tertentu saja. Misal, ketika ibu atau ayahnya ada waktu untuk menemaninya mandi, bermain, dan lainnya. Sebab lainnya berkaitan dengan pola pikir yang rigid atau kaku dan adanya tindakan yang bersifat repetitif atau berulang. Umumnya dialami oleh anak dengan gangguan perkembangan, semisal autisma. Tentu saja anak seperti ini perlu penanganan khusus untuk menanggulanginya."
POSITIF-NEGATIF
Sebenarnya, kata Yelia, perilaku tersebut wajar-wajar saja, selama tidak sampai menyusahkan. "Umumnya, semakin bertambah usia anak, maka keterampilan sosialnya juga akan bertambah, sehingga kebiasaan yang kaku ini semakin lama semakin berkurang dan akan menghilang dengan sendirinya tanpa intervensi khusus. Kecuali pada anak yang memang mengalami gangguan perkembangan."
Akan tetapi, lanjut Yelia, bukan berarti orangtua tak perlu membantu. "Kebiasaan kaku ini akan berangsur berkurang hanya bila tidak mendapatkan penguatan dari lingkungan. Jika orangtua justru memperkuat kebiasaan yang kaku tersebut, entah dengan membiarkan, selalu menuruti keinginan anak, maupun tidak memberikan penjelasan pada si anak, maka kebiasaan kaku tersebut akan tampil lebih kuat."
Kerugiannya, sikap kaku yang berlebihan tanpa disertai fleksibilitas akan menyulitkan anak dalam beradaptasi dengan hal-hal baru. Hal ini juga menghambatnya dalam berinteraksi sosial dengan orang lain. Namun, bukan berarti menanamkan kebiasaan secara teratur itu salah. Buah positifnya juga ada. Antara lain, anak dapat mengembangkan disiplin dan keteraturan dalam bertindak, serta terbiasa melakukan perencanaan. Lebih jauh lagi, anak dapat melakukan antisipasi terhadap hal-hal yang mungkin akan terjadi. Karenanya, orangtua pandai-pandailah mengatur ritme penerapan aturan dan bersikap fleksibel di saat-saat darurat.
VARIASI, DONG...
"Kalau sudah telanjur, apa yang harus dilakukan, Mbak?" tanya saya segera.
"Orangtua harus peka terhadap kebutuhan dan karakter anaknya, ini yang pertama. Peka terhadap kebutuhan, antara lain dengan mengenali alasan yang menyebabkan anak melakukan tindakan tersebut. Orangtua harus berusaha untuk memahami karakter dan pola tingkah laku anak, serta proses pembiasaan yang terjadi. Kemudian berusaha berempati dan tidak memaksanya mengubah kebiasaan. Dukungan serta sikap yang konsisten lebih diperlukan anak agar merasa lebih aman, sehingga dapat membentuk rasa percaya diri dan pada akhirnya tindakan ritual tersebut akan hilang dengan sendirinya. Kalau memang karakternya perfeksionis, maka anak perlu dipersiapkan dalam menghadapi segala aktivitasnya, terutama yang di luar kebiasaan. Beritahukan atau jelaskan terlebih dahulu apa yang akan terjadi atau dilakukan oleh si anak di luar dari kebiasaannya itu," kata Yelia.
Sebetulnya, anak-anak yang memang mudah menyesuaikan diri biasanya tak terlalu terganggu bila melakukan rutinitas di luar jalurnya. Dalam kondisi terburu-buru, tak masalah jika handuknya dipakai terbalik, atau jika dibantu dipakaikan sepatunya sebelah kiri dulu padahal biasanya kanan. "Anak seperti ini dapat dengan cepat mengatasinya. Bahkan, beberapa anak justru merasa senang dan tertarik menghadapi ‘hal baru’ tersebut," lanjut Yelia.
"Namun fleksibel bukan berarti berubah-ubah, lo. Fleksibel adalah kemampuan beradaptasi secara cepat terhadap perubahan yang terjadi," tambahnya segera. "Bagaimanapun, dalam menerapkan disiplin, orangtua harus tetap konsisten. Kalau tidak konsisten atau berubah-ubah justru dapat menimbulkan kebingungan dan membuat anak merasa tidak nyaman. Hanya saja dalam pembiasaan yang konsisten tersebut selipkan juga variasi ritual yang dapat orangtua berikan dalam momen-momen tertentu. Sesekali, ajaklah anak makan sambil piknik di halaman. Tapi kalau anak tidak mau, ya jangan dipaksa. Biarkan saja dia tetap melakukan ritualnya sambil diberikan penjelasan mengenai variasi ritual yang bisa ia lakukan. Selain itu, orangtua juga perlu introspeksi akan sikapnya selama ini apakah dalam penerapan disiplin bersifat kaku ataukah cukup fleksibel."
Sedangkan bila penyebabnya adalah si anak cari perhatian, menurut Yelia, kembali lagi orangtua perlu peka terhadap kebutuhan anak. Selain juga perlu ditelaah apakah cari perhatian tersebut mengarah pada kurangnya kebersamaan dengan anak, atau merupakan aksi protes anak terhadap penerapan disiplin yang dilakukan orangtua. Ada baiknya orangtua melakukan introspeksi, kemudian memperbaiki diri serta memberikan perhatian sesuai dengan kebutuhan anaknya.
Kini saya bisa bernapas lega. Setidaknya, saya jadi paham, mengapa buah hati saya sampai "sekaku" itu. Tentu saja saya juga harus berubah kalau tidak ingin si kecil kelak benar-benar menjadi pribadi yang kaku.
Minggu, 23 November 2008
Layanan Prima di Perpustakaan PT
LAYANAN PRIMA DI PERPUSTAKAAN PERGURUAN TINGGI
TIDAK MUDAH TETAPI BISA DILAKUKAN
by:Ana Afida, S.Ag, S.IP
A. PENDAHULUAN
Perpustakaan Perguruan Tinggi merupakan unsur penunjang Perguruan Tinggi, yang bersama-sama dengan unsur penunjang lainnya, berperan serta dalam melaksanakan tercapainya visi dan misi perguruan tingginya.
Dengan demikian perpustakaan Perguruan Tinggi sebagai sarana untuk menyebarkan informasi bagi civitas akademika, maka informasi yang dimiliki harus mengacu dan sesuai dengan kurikulum yang berlaku di sebuah perguruan tinggi . Sehingga dengan memiliki koleksi yang sesuai dengan kurikulum akan terlihat manfaat bagi penggunanya untuk memperoleh informasi yang dikehendaki.
Berdasarkan pola pemikiran tersebut di atas, maka diperlukan tenaga pengelola perpustakaan yang profesional dan berlatar belakang pendidikan yang sesuai, sehingga akan menambah wawasan untuk mengembangkan perpustakaan yang dikelolanya. Dengan didukung tenaga perpustakaan yang profesional diharapkan dalam penyediaan bahan pustaka dan pelayanan di perpustakaan dapat dimanfaatkan oleh penggunya secara optimal. Hal ini dimaksudkan agar dapat memenuhi kebutuhan penggunanya.
Sebanyak dan selengkap apa pun koleksi yang dimiliki perpustakaan tentu tidak akan bermanfaat, apabila tidak di pergunakan oleh pemakai. Disinilah peran seorang pustakawan yang berpengalaman dalam penyediaan bahan pustaka dan pelayanannya selalu memperhatikan kebutuhan, minat serta selera dari penggunanya. Berbagai upaya ditempuh oleh pihak perpustakaan untuk menyediakan layanan perpustakaan yang prima agar dapat memberikan kepuasan kepada penggunanya.
B. LAYANAN PRIMA DI PERPUSTAKAAN PERGURUAN TINGGI
Pemakai Perpustakaan Perguruan tinggi terdiri dari mahasiswa, dosen, dan staf. Mahasiswa yang datang ke perpustakaan yaitu mahasiswa regular, ekstensi, serta pasca sarjana. Selain mahasiswa, dosen juga datang ke perpustakaan untuk mendapatkan informasi sesuai dengan kebutuhan mereka guna mengajar dan mengadakan penelitian. Begitu pula, staf juga datang ke perpustakaan karena membutuhkan informasi. Ketiga jenis pemakai ini berbeda dalam hal mendapatkan informasi. Perbedaan ini menunjukkan bahwa perpustakaan memang pusat belajar, mengajar, dan penelitian sebagaimana tercakup dalam Pedoman Umum Pengelolaan Koleksi Perpustakaan Perguruan Tinggi (1999, hal. 5). Ketiga jenis pemakai memperlihatkan perbedaan dalam pengajuan pertanyaan dan kebutuhan informasi.Mahasiswa sering datang ke perpustakaan menanyakan berbagai hal yang berhubungan dengan perkuliahan. Misalnya, dalam mengerjakan tugas mahasiswa membutuhkan literatur tentang subjek tertentu. Pustakawan dapat membantu mahasiswa tersebut dengan mencarikan literatur. Bisa dengan bantuan penulusuran di internet, buku, dan jurnal yang dilanggan perpustakaan. Lain lagi dengan dosen, mereka datang ke perpustakaan mencari bahan mengajar atau penelitian. Dosen meminta pustakawan mencari buku atau jurnal sesuai dengan apa yang mereka ajarkan. Misalnya, untuk kuliah manajemen. Berbeda dari mahasiswa dan dosen, staf datang ke perpustakaan juga mencari informasi. Mereka misalnya mencari buku untuk digunakan sebagai penataran atau kenaikan pangkat.
Dari ketiga jenis pemakai tersebut, tingkah laku mereka pun berbeda. Ada yang dapat menggunakan bahasa yang baik dan mudah dimengerti, tetapi kadang-kadang ada juga yang tidak. Ada yang sopan, ada pula yang tidak. Menjadi tugas pustakawan untuk memenuhi semua kebutuhan pemakai. Pustakawan harus bisa mengatasi persoalan dengan sebaik mungkin. Pustakawan harus dapat menjawab pertanyaan dengan bahasa yang jelas, tepat, dan sopan. Alhasil pemakai akan merasa puas. Sesuai dengan pendapat Lily Roesma (2000), pustakawan harus :
1. Sopan. Pandang muka orang yang bertanya, berikan perhatian penuh.
2. Mempergunakan bahasa yang baik.Sederhana dan mudah dimengerti.
3. Menjawab pertanyaan secara profesional.
4. Mengusahakan agar yang bertanya puas akan jawaban saudara.
Pelayanan prima adalah pelayanan yang berorientasi pada kepuasan pelanggan dan memberi layanan melampaui dari yang diharapkan pelanggan. Ada 5 dimensi layanan yang harus di penuhi dalam pelayanan prima:
1. Tangible
Yaitu sesuatu yang mudah dilihat dan diukur
2.Emphaty
Kemudahan dalam berhubungan komunikasi, perhatian pribadi dan memahami kebutuhan pelanggan, misalnya : mengucapkan salam dan ucapan terimakasih
3. Responsivenes
Keinginan untuk membantu dan memberikan layanan secara tanggap
4. Realibility
Kemampuan memberikan layanan yang dijanjikan dengan segera, akurat dan memuaskan
5. Assurance
Pengaturan, kemampuan, kesopanan dan sifat yang dapat dipercaya pelanggan. Jelaslah bahwa Pustakawan harus mengetahui cara berkomunikasi yang efektif dengan pemakai. Misalnya, Pustakawan harus mendengarkan dan memahami pertanyaan pemakai, seperti dikatakan oleh Dahana (2000). Apabila Pustakawan dapat berkomunikasi dengan efektif, maka besar kemungkinan harapan kebutuhan informasi pemakai akan tercapai dan Pemakai akan merasa senang dan puas.
Kepuasan pemakai akan informasi dari pustakawan merupakan hasil akhir bahwa pustakawan berhasil. Menurut Putu Laxman Pendit (1992): "Hasil akhir yang harus menjadi patokan para pustakawan adalah sumbangan pekerjaannya dalam perkembangan pengetahuan masyarakat yang dilayani. Kualitas kepustakawanan seorang pustakawan, dengan demikian diukur dari sumbangannya pada peningkatan kepuasan pemakai perpustakaan. (h. 87)
Jelas bahwa kepuasan pemakai terletak pada bagaimana Pustakawan dapat melayani kebutuhan pemakai sebaik mungkin.Contohnya, Pustakawan harus ramah, cepat, dan tepat dalam memberikan layanan kepada pemakai dengan berbagai macam bentuk dan dari berbagai macam sumber informasi. Ini sesuai dengan pendapat Sutarno tentang layanan perpustakaan sebagai layanan prima, yaitu cepat, tepat, mudah, sederhana, dan murah, serta memuaskan pemakainya. (Sutarno, 2004, h.71).
Pustakawan juga dapat semaksimal mungkin memberikan sumbangan pengetahuan baru pada pemakai perpustakaan. Misalnya, dalam mencari artikel untuk subyek tertentu, mahasiswa diarahkan untuk menggunakan online journal yang dilanggan dengan subyek yang dikehendakinya. Dengan begitu, pemakai akan merasa senang karena mendapatkan informasi yang sesuai kebutuhan. Pemakai menjadi sering datang memanfaatkan koleksi yang ada di perpustakaan semaksimal mungkin sesuai kebutuhannya. Kalau tidak tahu, mereka dapat bertanya kepada Pustakawan untuk mendapatkan koleksi yang dimaksud. Dan Pustakawan pun harus terus meningkatkan pengetahuan sesuai dengan perkembangan ilmu. Pustakawan harus dapat memaksimalkan juga kualitas pemakaian perpustakaan. Misalnya dengan memanfaatkan koleksi yang ada di perpustakaan untuk dijadikan sumber informasi kepada pemakai.
Namun, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Koleksi yang tersedia jumlahnya harus diperbanyak lagi, baik dari segi judul maupun eksemplar.
Selain koleksi, yang perlu diperhatikan dalam memberikan layanan prima adalah ketersediaan ruangan yang nyaman dan tertata baik. Ruangan yang kurang luas dan kurang nyaman. Misalnya, karena tidak ada ruang sekat antara ruang baca dan ruang diskusi, sangat lah mengganggu kalau ada mahasiswa yang sedang diskusi. Belum lagi ketersediaan meja dan kursi yang tidak memadai dengan jumlah mahasiswa pemakai perpustakaan.
C. KESIMPULAN
Perpustakaan adalah sebagai tempat penyelenggara informasi perlu adanya sistem pelayanan yang baik dari pustakawannya. Pustakawan harus memiliki visi yang jelas dalam melaksanakan tugasnya. Layanan merupakan salah satu faktor penting untuk menarik pemustaka berkunjung ke perpustakaan. Dengan kecepatan,ketepatan dan keramah-tamahan layanan, maka kepuasan pemustaka - yang merupakan muara akhir dari tujuan layanan perpustakaan- akan tercapai. Citra perpustakaan akan meningkat jika pelayanan prima bisa diimplementasikan di seluruh bagian dari perpustakaan Dengan adanya pelayan prima di setiap bagian maka akan muncul pelayanan yang bermutu, yaitu :
- pelayanan yang disediakan pada saat dibutuhkan
- pelayanan sesuai dengan kebutuhan pelanggan
- pelayanan mudah didapatkan/diakses oleh pelanggan
- pelayanan dapat dipercaya oleh pelanggan
- tidak ada keraguan atau resiko yang berkaitan dengan penggunaan layanan
layanan di atas hanya bisa dilakukan oleh orang yang :
- memiliki ketrampilan dan pengetahuan yang dibutuhkan
- berpretasi dalam hal penampilan
- didukung oleh sarana dan prasarana yang mantap
- ramah dan sopan
Apabila semua komponen dari perpustakaan mulai dari bagian parkir,bagian kantin, bagian pendaftaran, bagian sirkulasi, bagian pengolahan, bagian pengembangan, bagian tata usaha dan bagian lainnya memahami dan menerapkan pelayanan prima, maka tidak hanya jumlah pengunjung perpustakan saja yang meningkat tetapi kualitas layanan juga akan sangat dirasakan pemustaka, sehingga citra perpustakaan yang selama ini masih terpuruk bisa meningkat. Semoga.
DAFTAR PUSTAKA
Pendit, Putu Laxman. Makna informasi: lanjutan dari sebuah perdebatan. Dalam Kepustakawanan Indonesia: potensi dan tantangan. Editor, Antonius Bangun et.al. Jakarta: Kesaint Blenc, 1992.
Perpustakaan Nasional RI. Pedoman umum pengelolaan koleksi perpustakaan perguruan tinggi. Jakarta: Perpustakaan Nasional, 1999.
Roesma, Lily. Penyuluhana tentang cara berkomunikasi yang efektif dengan pengguna perpustakaan. Disampaikan dalam penyuluhan bagi petugas pelayanan perpustakaan di lingkungan Universitas Indonesia, Depok, 25 Januari 2000.
Sutarno NS, Manajemen perpustakaan: suatu pendekatan praktik. Jakarta: Samitra Media Utama, 2004
TIDAK MUDAH TETAPI BISA DILAKUKAN
by:Ana Afida, S.Ag, S.IP
A. PENDAHULUAN
Perpustakaan Perguruan Tinggi merupakan unsur penunjang Perguruan Tinggi, yang bersama-sama dengan unsur penunjang lainnya, berperan serta dalam melaksanakan tercapainya visi dan misi perguruan tingginya.
Dengan demikian perpustakaan Perguruan Tinggi sebagai sarana untuk menyebarkan informasi bagi civitas akademika, maka informasi yang dimiliki harus mengacu dan sesuai dengan kurikulum yang berlaku di sebuah perguruan tinggi . Sehingga dengan memiliki koleksi yang sesuai dengan kurikulum akan terlihat manfaat bagi penggunanya untuk memperoleh informasi yang dikehendaki.
Berdasarkan pola pemikiran tersebut di atas, maka diperlukan tenaga pengelola perpustakaan yang profesional dan berlatar belakang pendidikan yang sesuai, sehingga akan menambah wawasan untuk mengembangkan perpustakaan yang dikelolanya. Dengan didukung tenaga perpustakaan yang profesional diharapkan dalam penyediaan bahan pustaka dan pelayanan di perpustakaan dapat dimanfaatkan oleh penggunya secara optimal. Hal ini dimaksudkan agar dapat memenuhi kebutuhan penggunanya.
Sebanyak dan selengkap apa pun koleksi yang dimiliki perpustakaan tentu tidak akan bermanfaat, apabila tidak di pergunakan oleh pemakai. Disinilah peran seorang pustakawan yang berpengalaman dalam penyediaan bahan pustaka dan pelayanannya selalu memperhatikan kebutuhan, minat serta selera dari penggunanya. Berbagai upaya ditempuh oleh pihak perpustakaan untuk menyediakan layanan perpustakaan yang prima agar dapat memberikan kepuasan kepada penggunanya.
B. LAYANAN PRIMA DI PERPUSTAKAAN PERGURUAN TINGGI
Pemakai Perpustakaan Perguruan tinggi terdiri dari mahasiswa, dosen, dan staf. Mahasiswa yang datang ke perpustakaan yaitu mahasiswa regular, ekstensi, serta pasca sarjana. Selain mahasiswa, dosen juga datang ke perpustakaan untuk mendapatkan informasi sesuai dengan kebutuhan mereka guna mengajar dan mengadakan penelitian. Begitu pula, staf juga datang ke perpustakaan karena membutuhkan informasi. Ketiga jenis pemakai ini berbeda dalam hal mendapatkan informasi. Perbedaan ini menunjukkan bahwa perpustakaan memang pusat belajar, mengajar, dan penelitian sebagaimana tercakup dalam Pedoman Umum Pengelolaan Koleksi Perpustakaan Perguruan Tinggi (1999, hal. 5). Ketiga jenis pemakai memperlihatkan perbedaan dalam pengajuan pertanyaan dan kebutuhan informasi.Mahasiswa sering datang ke perpustakaan menanyakan berbagai hal yang berhubungan dengan perkuliahan. Misalnya, dalam mengerjakan tugas mahasiswa membutuhkan literatur tentang subjek tertentu. Pustakawan dapat membantu mahasiswa tersebut dengan mencarikan literatur. Bisa dengan bantuan penulusuran di internet, buku, dan jurnal yang dilanggan perpustakaan. Lain lagi dengan dosen, mereka datang ke perpustakaan mencari bahan mengajar atau penelitian. Dosen meminta pustakawan mencari buku atau jurnal sesuai dengan apa yang mereka ajarkan. Misalnya, untuk kuliah manajemen. Berbeda dari mahasiswa dan dosen, staf datang ke perpustakaan juga mencari informasi. Mereka misalnya mencari buku untuk digunakan sebagai penataran atau kenaikan pangkat.
Dari ketiga jenis pemakai tersebut, tingkah laku mereka pun berbeda. Ada yang dapat menggunakan bahasa yang baik dan mudah dimengerti, tetapi kadang-kadang ada juga yang tidak. Ada yang sopan, ada pula yang tidak. Menjadi tugas pustakawan untuk memenuhi semua kebutuhan pemakai. Pustakawan harus bisa mengatasi persoalan dengan sebaik mungkin. Pustakawan harus dapat menjawab pertanyaan dengan bahasa yang jelas, tepat, dan sopan. Alhasil pemakai akan merasa puas. Sesuai dengan pendapat Lily Roesma (2000), pustakawan harus :
1. Sopan. Pandang muka orang yang bertanya, berikan perhatian penuh.
2. Mempergunakan bahasa yang baik.Sederhana dan mudah dimengerti.
3. Menjawab pertanyaan secara profesional.
4. Mengusahakan agar yang bertanya puas akan jawaban saudara.
Pelayanan prima adalah pelayanan yang berorientasi pada kepuasan pelanggan dan memberi layanan melampaui dari yang diharapkan pelanggan. Ada 5 dimensi layanan yang harus di penuhi dalam pelayanan prima:
1. Tangible
Yaitu sesuatu yang mudah dilihat dan diukur
2.Emphaty
Kemudahan dalam berhubungan komunikasi, perhatian pribadi dan memahami kebutuhan pelanggan, misalnya : mengucapkan salam dan ucapan terimakasih
3. Responsivenes
Keinginan untuk membantu dan memberikan layanan secara tanggap
4. Realibility
Kemampuan memberikan layanan yang dijanjikan dengan segera, akurat dan memuaskan
5. Assurance
Pengaturan, kemampuan, kesopanan dan sifat yang dapat dipercaya pelanggan. Jelaslah bahwa Pustakawan harus mengetahui cara berkomunikasi yang efektif dengan pemakai. Misalnya, Pustakawan harus mendengarkan dan memahami pertanyaan pemakai, seperti dikatakan oleh Dahana (2000). Apabila Pustakawan dapat berkomunikasi dengan efektif, maka besar kemungkinan harapan kebutuhan informasi pemakai akan tercapai dan Pemakai akan merasa senang dan puas.
Kepuasan pemakai akan informasi dari pustakawan merupakan hasil akhir bahwa pustakawan berhasil. Menurut Putu Laxman Pendit (1992): "Hasil akhir yang harus menjadi patokan para pustakawan adalah sumbangan pekerjaannya dalam perkembangan pengetahuan masyarakat yang dilayani. Kualitas kepustakawanan seorang pustakawan, dengan demikian diukur dari sumbangannya pada peningkatan kepuasan pemakai perpustakaan. (h. 87)
Jelas bahwa kepuasan pemakai terletak pada bagaimana Pustakawan dapat melayani kebutuhan pemakai sebaik mungkin.Contohnya, Pustakawan harus ramah, cepat, dan tepat dalam memberikan layanan kepada pemakai dengan berbagai macam bentuk dan dari berbagai macam sumber informasi. Ini sesuai dengan pendapat Sutarno tentang layanan perpustakaan sebagai layanan prima, yaitu cepat, tepat, mudah, sederhana, dan murah, serta memuaskan pemakainya. (Sutarno, 2004, h.71).
Pustakawan juga dapat semaksimal mungkin memberikan sumbangan pengetahuan baru pada pemakai perpustakaan. Misalnya, dalam mencari artikel untuk subyek tertentu, mahasiswa diarahkan untuk menggunakan online journal yang dilanggan dengan subyek yang dikehendakinya. Dengan begitu, pemakai akan merasa senang karena mendapatkan informasi yang sesuai kebutuhan. Pemakai menjadi sering datang memanfaatkan koleksi yang ada di perpustakaan semaksimal mungkin sesuai kebutuhannya. Kalau tidak tahu, mereka dapat bertanya kepada Pustakawan untuk mendapatkan koleksi yang dimaksud. Dan Pustakawan pun harus terus meningkatkan pengetahuan sesuai dengan perkembangan ilmu. Pustakawan harus dapat memaksimalkan juga kualitas pemakaian perpustakaan. Misalnya dengan memanfaatkan koleksi yang ada di perpustakaan untuk dijadikan sumber informasi kepada pemakai.
Namun, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Koleksi yang tersedia jumlahnya harus diperbanyak lagi, baik dari segi judul maupun eksemplar.
Selain koleksi, yang perlu diperhatikan dalam memberikan layanan prima adalah ketersediaan ruangan yang nyaman dan tertata baik. Ruangan yang kurang luas dan kurang nyaman. Misalnya, karena tidak ada ruang sekat antara ruang baca dan ruang diskusi, sangat lah mengganggu kalau ada mahasiswa yang sedang diskusi. Belum lagi ketersediaan meja dan kursi yang tidak memadai dengan jumlah mahasiswa pemakai perpustakaan.
C. KESIMPULAN
Perpustakaan adalah sebagai tempat penyelenggara informasi perlu adanya sistem pelayanan yang baik dari pustakawannya. Pustakawan harus memiliki visi yang jelas dalam melaksanakan tugasnya. Layanan merupakan salah satu faktor penting untuk menarik pemustaka berkunjung ke perpustakaan. Dengan kecepatan,ketepatan dan keramah-tamahan layanan, maka kepuasan pemustaka - yang merupakan muara akhir dari tujuan layanan perpustakaan- akan tercapai. Citra perpustakaan akan meningkat jika pelayanan prima bisa diimplementasikan di seluruh bagian dari perpustakaan Dengan adanya pelayan prima di setiap bagian maka akan muncul pelayanan yang bermutu, yaitu :
- pelayanan yang disediakan pada saat dibutuhkan
- pelayanan sesuai dengan kebutuhan pelanggan
- pelayanan mudah didapatkan/diakses oleh pelanggan
- pelayanan dapat dipercaya oleh pelanggan
- tidak ada keraguan atau resiko yang berkaitan dengan penggunaan layanan
layanan di atas hanya bisa dilakukan oleh orang yang :
- memiliki ketrampilan dan pengetahuan yang dibutuhkan
- berpretasi dalam hal penampilan
- didukung oleh sarana dan prasarana yang mantap
- ramah dan sopan
Apabila semua komponen dari perpustakaan mulai dari bagian parkir,bagian kantin, bagian pendaftaran, bagian sirkulasi, bagian pengolahan, bagian pengembangan, bagian tata usaha dan bagian lainnya memahami dan menerapkan pelayanan prima, maka tidak hanya jumlah pengunjung perpustakan saja yang meningkat tetapi kualitas layanan juga akan sangat dirasakan pemustaka, sehingga citra perpustakaan yang selama ini masih terpuruk bisa meningkat. Semoga.
DAFTAR PUSTAKA
Pendit, Putu Laxman. Makna informasi: lanjutan dari sebuah perdebatan. Dalam Kepustakawanan Indonesia: potensi dan tantangan. Editor, Antonius Bangun et.al. Jakarta: Kesaint Blenc, 1992.
Perpustakaan Nasional RI. Pedoman umum pengelolaan koleksi perpustakaan perguruan tinggi. Jakarta: Perpustakaan Nasional, 1999.
Roesma, Lily. Penyuluhana tentang cara berkomunikasi yang efektif dengan pengguna perpustakaan. Disampaikan dalam penyuluhan bagi petugas pelayanan perpustakaan di lingkungan Universitas Indonesia, Depok, 25 Januari 2000.
Sutarno NS, Manajemen perpustakaan: suatu pendekatan praktik. Jakarta: Samitra Media Utama, 2004
Langganan:
Postingan (Atom)