Jumat, 20 Juni 2008

emosi anak

PERKEMBANGAN EMOSI SI PRASEKOLAH
Perkembangan emosi terkait dengan perkembangan perasaan.


Perkembangan emosi dimulai sejak anak lahir terus sampai anak menjadi besar. Awalnya, kemampuan anak dalam mengekspresikan perasaannya masih terbatas. Ketika baru lahir anak hanya bisa menunjukkan perasaan senang dan tidak senang. Perasaan tidak senang ditunjukkannya dengan perilaku rewel atau menangis. Ketidaksenangannya bisa karena lapar, kedinginan, kepanasan, sakit, dan sebagainya. Sedangkan perasaan senang ditunjukkannya dengan perilaku tenang, tersenyum, menyuarakan bunyi-bunyi seperti bentuk tertawa, dan sebagainya. Perasaan senang ini karena ia merasa nyaman, kenyang, dan lainnya.

Seiring bertambah usia, anak banyak belajar dan mengembangkan emosinya melalui pengalaman dalam berinteraksi dengan orang-orang di sekelilingnya. Perbendaharaan emosi anak bertambah, tidak lagi terbatas pada emosi senang dan tidak senang saja, anak juga sudah mampu mengekspresikan emosi lainnya seperti takut, iri hati, cemburu, sedih, gembira, cemas, dan sebagainya. Umumnya, di akhir usia batita atau sekitar usia 2 tahun, perbendaharaan emosi yang dimiliki anak sudah sama seperti emosi yang ada pada orang dewasa. Artinya, jika orang dewasa bisa marah, anak pun bisa marah; orang dewasa bisa iri, anak pun bisa iri, dan sebagainya.

BEDA ANAK DAN DEWASA

Perbedaan antara emosi orang dewasa dan anak adalah dalam hal stabilitasnya. Pada orang dewasa, perubahan dari satu emosi ke emosi lain umumnya tidak terjadi dalam waktu cepat. Contoh, orang dewasa yang sedang marah tidak bisa segera menjadi senang atau gembira kembali. Sedangkan pada anak, perubahan dari satu emosi ke emosi lainnya bisa terjadi dengan cepat sekali. Misal, ketika sedang senang-senangnya bermain, bisa saja ia tiba-tiba berubah marah dan menangis kencang ketika mainannya direbut teman. Atau, ketika anak yang sedang menangis kencang diberi es krim, tangisnya bisa berhenti seketika dan ia langsung tertawa riang.

Disamping stabilitas emosi, perbedaan lainnya adalah dalam pengendalian emosi. Orang dewasa diharapkan lebih mampu mengendalikan emosinya pada waktu, tempat, dan dengan cara yang tepat. Sementara anak belum bisa mengendalikan emosinya dengan baik. Ketika keinginan anak tak dipenuhi, dia akan marah dan menangis tak peduli sekalipun saat itu berada di keramaian atau tempat umum. Begitu pun caranya mengekspresikan amarah dengan memukul, membanting, dan sebagainya tanpa ia merasa malu ditonton banyak orang.

BANYAK PENGARUH

Pada dasarnya, perkembangan emosi dipengaruhi perkembangan beberapa aspek seperti fisik-motorik, kognitif, maupun sosial. Sifat bawaan atau temperamen anak, serta pola asuh dan lingkungan sosial tempat anak dibesarkan juga berpengaruh terhadap perkembangan emosinya.

Perkembangan kognitif berpengaruh terhadap keberlangsungan proses belajar anak. Ketika kemampuan berpikirnya sudah semakin berkembang, anak semakin paham terhadap harapan lingkungannya. Misal, ia tahu bahwa bila marah tidak boleh memukul atau membanting barang, karena akan merugikan orang lain. Atau, kalau dulu ia takut dan menangis tiap kali lihat badut, semakin besar ia tahu bahwa badut tidak berbahaya sehingga ia tidak perlu takut dan menangis lagi.

Di sisi lain, lingkungan sosialnya mengajari anak bagaimana cara mengekspresikan emosi sesuai dengan harapan lingkungan. Pada kenyataannya ekspresi perasaan seseorang tidak semata-mata dipengaruhi oleh pemahaman secara kognitif. Namun, yang lebih penting adalah latihan mengelola perasaan agar dapat diekspresikan sesuai waktu, tempat, dan cara yang bisa diterima lingkungan. Lingkungan sosial memang banyak berperan dalam membantu anak melatih dan mengelola emosinya dengan baik

Tidak ada komentar: