Jumat, 20 Juni 2008

perpustakaan untuk anak

Mengantarkan Mimpi-mimpi Anak Lewat Buku


"tanpa buku tak ada nyanyian kebebasan, dengan buku kita menjadi manusia "

HAMPIR semua orang sepakat, buku merupakan jendela dunia dan dapat membawa anak ke bagian dunia mana pun yang diinginkannya. Sayangnya, masih banyak anak di Indonesia yang membutuhkan wadah untuk mewujudkan mimpi-mimpinya, terutama mereka yang berasal dari masyarakat kebanyakan.

Keprihatinan inilah yang mendorong kelahiran wadah Komunitas 1001buku. Sebuah komunitas yang bercita-cita untuk membawakan lebih banyak lagi buku pada anak-anak yang hampir tidak memiliki akses pada bahan-bahan bacaan. Jangankan buku anak-anak yang berkualitas dan bisa memenuhi hasrat keingintahuan anak, bahan bacaan sederhana pun hampir tidak pernah mereka temukan. Untuk itulah, sekitar 200 relawan terjun membantu 31 perpustakaan anak-anak yang dikelola secara mandiri oleh Komunitas 1001buku.

Komunitas 1001buku ini berdiri pada bulan Mei 2002, yang berawal dari sebuah milis 1001buku@yahoogroups.com $ oleh beberapa pecinta anak dan buku. Bulan-bulan berikutnya diisi dengan berbagai pembicaraan, cerita keprihatinan, dan beragam ide, yang pada akhirnya mendorong lahirnya Komunitas 1001buku. Salah satu ide yang terlontar untuk pengumpulan buku-buku yang akan dikirimkan pada anak-anak adalah membuat book-drop-box (BDB). Sebelum berusia empat bulan, sudah ada 11 BDB yang ditangani relawan Komunitas 1001buku. Setelah buku terkumpul, kemudian dilakukan pemilihan, pengepakan, dan penyaluran buku-buku pada perpustakaan anak. Kegiatan inilah yang menjadi aktivitas pokok Komunitas 1001buku.

Selain melalui penyediaan BDB, pengumpulan buku juga dilakukan dengan jemput bola, sapu jagat, dan Book-A-Thon. BDB merupakan kotak-kotak yang diletakkan di berbagai lokasi strategis, yang berada dalam jangkauan jaringan Komunitas 1001buku. Cara ini ditempuh untuk memudahkan pendukung inisiatif Komunitas 1001buku dalam menyumbangkan buku, majalah, dan bahan bacaan lain. Bahan bacaan baru maupun buku bekas itu akan disalurkan bagi perpustakaan anak komunitas yang berada dalam jaringan Komunitas 1001buku.

Pengelolaan BDB ini pada dasarnya bisa dilakukan siapa saja yang tergabung dalam jaringan Komunitas 1001buku sebagai relawan, bisa perorangan ataupun kelompok. Lokasi-lokasi BDB yang ideal tentunya di daerah-daerah strategis yang memudahkan para penyumbang untuk mengedrop bukunya. Saat ini sudah ada 27 titik BDB di Jakarta, sebagian besar berada di area perkantoran di mana para relawan/penanggung jawab BDB bekerja. Di luar Jakarta, BDB baru ada di Bandung dengan empat titik, dan Semarang dengan satu titik.

Pola pengumpulan buku melalui jemput bola dilakukan para relawan Komunitas 1001buku dengan mendatangi para penyumbang secara langsung ke tempat yang dijanjikan. Cara ini ditempuh untuk menampung buku yang disumbangkan oleh orang-orang yang tidak sempat mengirimkan buku atau mau menyumbangkan buku dalam jumlah yang banyak. Sementara cara "sapu jagat" dilakukan dengan mendatangi lokasi perumahan, kemudian menampung buku-buku yang ingin disumbangkan warga. Book-A-Thon merupakan book drive yang diselenggarakan di ruang publik, seperti di McDonald s dan lainnya.

Komunitas 1001buku pertama kali menyalurkan buku-buku anak yang terkumpul untuk empat perpustakaan anak yang ada di dalam jaringannya. Pada saat yang hampir bersamaan, komunitas ini kemudian meluncurkan websites di alamat www.1001buku.org $. Melalui websites inilah, setiap bulan Komunitas 1001buku melaporkan buku-buku apa saja yang diterima, berapa jumlahnya, dan kepada siapa buku itu disumbangkan. Dengan mekanisme ini, diharapkan apa yang dilakukan Komunitas 1001buku mempunyai akuntabilitas di mata para penyumbangnya.

Saat ini sudah terdapat 31 perpustakaan anak yang masuk dalam jaringan Komunitas 1001buku, tersebar di Jakarta, Tangerang, Depok, Serang, Bogor, Cirebon, Surabaya, Subang, Ponorogo, Purwakarta, Semarang, Rembang, dan Bandar Lampung. Perpustakaan ini tidak hanya dikelola perorangan, tetapi juga dikelola mahasiswa, komunitas masyarakat, yayasan, rumah singgah, pemerintah daerah, dan masjid.

AKHIR pekan lalu, Komunitas 1001buku kembali mendeklarasikan keberadaannya di The British Council Indonesia. Dalam acara itu, empat pengasuh perpustakaan anak-anak anggota jaringan Komunitas 1001buku berbagi pengalaman pada calon relawan. Misalnya, pengalaman bagaimana merintis perpustakaan anak dan mengelola perpustakaan anak berbasis komunitas, termasuk juga bagaimana mencari sumber dananya. Mereka adalah Gola Gong dari Rumah Dunia Serang, Ida Sitompul dari Pondok Baca Arcamanik Bandung, Trini dari Perpustakaan Komunitas Rembang Jawa Tengah, dan Lutfi dari Perpustakaan Komunitas Tegal Gundil.

Gola Gong merintis perpustakaan anak didorong keinginan untuk memaksimalkan pemanfaatan koleksi buku-buku yang dimilikinya. Untuk itu, bersama sang istri, Gola Gong kemudian membuka Rumah Dunia agar anak-anak di sekitar kampungnya dapat memanfaatkan buku-buku itu. Sementara Ida sudah bercita-cita untuk membuat perpustakaan sejak menuntut ilmu di luar negeri. Begitu pulang, ide itu terus hidup namun tidak bisa direalisasikan. Begitu ada Komunitas 1001buku, keinginan membuka perpustakaan itu hidup kembali, sampai akhirnya lahirlah Pondok Baca Arcamanik. Trini dan Lutfi lebih terdorong oleh kepedulian pada anak-anak sekitar tempat tinggal dan kampung halaman mereka.

"Ego kedaerahan saya mendorong untuk membuka perpustakaan komunitas di Rembang. Lewat ego kedaerahan itu pula saya mengumpulkan dana dari orang-orang Rembang yang ada di perantauan untuk membangun perpustakaan bagi anak-anak," ujar Trini.

Berbeda dengan Trini, Gola Gong mengaku menyisihkan 2,5 persen dari penghasilan yang diperolehnya untuk membiayai perpustakaan. Selain itu, juga meminta bantuan pada relasinya untuk menyumbang buku, kertas, spidol, dan sebagainya. Dengan cara inilah anak-anak yang ada di sekitar rumahnya bisa belajar dan memanfaatkan bahan bacaan, sekaligus belajar baca-tulis secara gratis.

Meskipun bukan perpustakaan mewah, namun jaringan perpustakaan anak ini telah berusaha untuk memberikan jendela bagi anak untuk melihat dunia yang luas. Sampai akhir Desember 2002, jaringan Komunitas 1001buku memang berhasil mengumpulkan sekitar 8.000 buku, namun masih banyak anak dari kalangan tak mampu yang belum terakses pada buku, apalagi pendidikan.

Dihadapkan pada kenyataan ini, lalu kapan kita bisa berbuat untuk mereka? Kalaupun tidak bisa berbuat banyak, apalagi harus terjun langsung bersama anak-anak itu, mungkin kita bisa menyumbangkan buku-buku anak- bekas maupun baru-melalui Komunitas 1001buku ini. Kalau bukan kita, lalu siapa lagi yang harus memperhatikan anak-anak itu?

Tidak ada komentar: