Jumat, 20 Juni 2008

lomba untuk anak

IKUT LOMBA TAK SELALU BAIK
Anak prasekolah belum siap terima kekalahan.


Biasanya, orangtua paling antusias mengikutsertakan anaknya pada suatu lomba, entah itu mewarnai, melukis, menggambar, fashion show, balapan, menyanyi, dan lainnya. Alasannya antara lain memotivasi anak dalam melakukan sesuatu, menguji coba kemampuan, memberi pengalaman, dan ingin anak punya suatu prestasi yang dapat dibanggakan.

Tak heran bila orangtua mempersiapkan sedemikian rupa sang anak untuk dapat ikut lomba dan menang. Sampai-sampai, ada saja orangtua yang mencoba membantu pekerjaan anaknya. Contoh lain, saat lomba pakai kostum, sang anak didandani sedemikian rupa sampai-sampai kesannya berlebihan. Orangtua pun begitu antusias menyemangati anaknya, seolah "didorong" untuk menang.

Tanpa disadari, sebetulnya sikap orangtua seperti itu sedikit banyak bisa menjadi "tekanan" tertentu bagi si anak.

BELUM MATANG

Umumnya anak usia prasekolah belum begitu paham akan tujuan dan makna lomba itu sendiri. Misal, mengapa dia harus melakukan sesuatu secara cepat, mengapa harus mengikuti suatu instruksi yang diberikan pengarah lomba, dan sebagainya. Tetapi karena diiming-imingi hadiah oleh orangtua atau guru, anak mungkin "terpaksa" mengikuti lomba. Atau yang lebih memprihatinkan adalah karena alasan takut dimarahi, maka anak "terpaksa" ikut lomba.

Secara psikis pun sebetulnya anak belum siap untuk lomba atau berkompetisi dengan anak lain. Pasalnya, anak usia ini belum bisa melakukan kegiatan dengan target waktu secara cepat. Umumnya, anak prasekolah lebih nyaman ketika melakukan suatu kegiatan semisal menggambar dalam suasana yang santai, nyaman dan sesuai irama kesanggupan mereka. Dengan begitu, hasilnya bisa optimal, prosesnya pun bisa lebih dinikmati oleh anak. Sedangkan situasi lomba tak memungkinkan anak untuk menikmati proses kegiatan tersebut, tetapi lebih menekankan pada satu hal, yaitu mendapatkan hadiah saja.

Selain itu, anak juga belum siap secara emosi dan sosial dalam menerima kekalahan. Hal ini tak bisa dipungkiri karena dalam lomba, berarti ada yang menang dan ada yang kalah. Ketika anak kalah, berarti dia tidak mendapatkan kebanggaan maupun hadiah. Apalagi jika lomba tersebut diikuti oleh peserta dalam jumlah cukup besar, tentu jumlah anak yang menjadi pemenang lebih sedikit dibanding jumlah anak yang kalah. Orangtua perlu mempertimbangkan hal ini, karena pemahaman orangtua bahwa dengan ikut lomba, anak akan mendapat pengalaman, perlu ditelusuri lagi. Bagaimana jika pengalaman yang didapat anak sering kali tidak sesuai dengan harapan anak? Katakanlah, ada anak yang berkali-kali ikut lomba dan tidak pernah menang. Atau sepuluh kali ikut lomba, menang sekali saja. Tentu ini memiliki dampak tersendiri terhadap konsep diri anak.

Yang memprihatinkan, tak sedikit orangtua yang mengikutkan anaknya lomba dengan tujuan agar si anak mendapatkan pengalaman. Dalam artian, anaknya tidak menang pun tidak apa-apa, yang penting mendapatkan pengalaman. Tapi ini pandangan versi orangtua, kan? Bukan versi anak.

Padahal, buat anak yang tak pernah menjadi pemenang alias sering kalah ini akan berdampak kurang baik terhadap konsep dirinya. Pengaruh negatif yang bisa terjadi adalah ketika orangtua menunjukkan rasa kekecewaannya pada anak saat tidak berhasil mendapat hadiah atau piala; ketika anak lain mengejek kekalahan si anak; dan ketika anak melihat anak lain begitu senang membawa piala sedangkan dirinya tidak membawa apa-apa. Ini semua bisa menjadi pukulan tersendiri bagi anak.Perilaku yang mungkin tampak pada anak antara lain menangis, mengamuk, kecewa, karena ia tidak mendapatkan apa-apa dari apa yang telah dia lakukan dan usahakan. Bahkan bila kekalahan seperti ini sering terjadi berulang maka pengalaman tak menyenangkan yang diperolehnya akan berdampak pada rasa percaya diri anak. Ia menjadi anak yang kurang percaya diri. Anak juga dapat melabel dirinya sebagai anak yang tidak pintar, dan bukan seorang pemenang. Kasihan sekali jika di usia yang masih sangat dini, anak "dibekali pengalaman" yang kurang menyenangkan dan tidak membanggakan.

Hal yang sama juga akan terjadi apabila orangtua mengikutsertakan anaknya lomba dengan tujuan memotivasi diri anak, menguji coba kemampuan si anak atau agar anak berprestasi. Semua tujuan itu tak akan bisa dicapai lewat keikutsertaan lomba individual semacam ini.

Bagaimana dengan anak yang menang? Memang, akan berdampak pada konsep dirinya yang lebih positif, yaitu anak jadi lebih percaya diri. Akan tetapi, jika lingkungan si anak tidak kondusif, dalam arti perilaku anak tidak secara baik didukung, semisal orang tua secara berlebihan memuji kehebatan anak tanpa mengajak anak untuk berempati pada yang tidak menang, maka sisi positif itu pun bisa berubah menjadi negatif. Anak bisa bersikap sombong dengan kemenangan-kemenangan yang diraihnya. Ia pun terbiasa dengan label juara pada dirinya. Tak jarang ketika suatu saat anak mengalami kekalahan, dia akan sangat bersedih dan tak bisa menerima kekalahan tersebut. Hal ini bisa saja terjadi karena memang secara emosi anak usia ini belum matang.

Kalaupun kegiatan lomba diadakan di sekolah dan harus diikuti semua anak, sebaiknya para orangtua maupun guru tetap memberi pilihan terlebih dahulu pada anak, apakah ingin ikut lomba atau tidak. Karena ada pula orangtua yang menginginkan anaknya ikut lomba, padahal anak sebenarnya merasa tidak nyaman. Jika sesekali ingin ikut lomba, ikutkan anak pada lomba kelompok sehingga kekalahan ditanggung bersama dan kemenangan juga hasil usaha bersama. Namun tetap, semua mendapat hadiah karena telah berusaha. Jadi, orangtua harus bersikap kritis terhadap lomba-lomba yang ada. Setting kegiatan yang bisa memotivasi anak, seperti “pesta mewarnai bersama”, “semarak menyanyi bersama”, dan sejenisnya sebagai pengganti lomba yang cenderung melabel seorang anak sebagai pemenang dan pecundang.

TIP IKUT LOMBA

* Tidak memaksa anak. Beri anak pilihan, mau ikut lomba atau tidak. Kegiatan yang dilakukan harus bisa menyenangkan bagi anak.

* Minimalkan ikut lomba-lomba yang kurang mendukung perkembangan anak. Contoh, lomba menggambar yang tidak memerhatikan tahapan menggambar anak seusianya dan menuntut anak lebih dari kemampuannya.

* Berikan alternatif pengganti dengan melakukan kegiatan bersama atau lomba secara berkelompok. Contohnya, mewarnai secara berkelompok dengan berbagai media beragam yang dapat digunakan, menggambar secara berkelompok, berlari estafet, dan sebagainya. Dengan begitu, kemenangan maupun kekalahan ditanggung anak secara berkelompok. Ini merupakan aplikasi dari cooperative learning dimana anak belajar bekerja sama untuk kegiatan yang positif. Jadi, untuk anak usia prasekolah lebih penting memfasilitasinya dengan kegiatan yang dapat membuatnya belajar bekerja sama ketimbang bersaing. Hal ini sesuai dengan landasan perkembangan anak usia ini terutama dalam aspek sosialnya dimana anak belajar untuk bisa lebih bersosialisasi dengan lingkungannya.

* Bisa juga sesekali melakukan "lomba" di rumah bersama anggota keluarga, seperti antara ayah/ibu dengan anak. Kegiatannya dapat dilakukan dalam suasana santai dan anak dapat menikmati proses lombanya.

* Berikan hadiah yang sama kepada semua anak yang ikut terlibat dalam kegiatan berprestasi bersama. Beri anak hadiah atas usaha dan semangat mereka dalam ikut kegiatan tersebut, bukan karena hasil/produk akhir dari kegiatan yang dilakukannya saja. Dengan demikian ketika anak pulang ke rumah membawa hadiah, tiap anak yakin dirinya adalah pemenang dengan kelebihannya masing-masing. Tentunya ini akan berdampak positif untuk perkembangan anak selanjutnya.

MENYIKAPI KEKALAHAN ANAK

Jika orangtua sudah telanjur mengikutsertakan anaknya pada lomba tanpa memerhatikan perkembangan emosi anak, maka ketika anak mengalami kekalahan, orangtua harus memberikan penjelasan pada anak. Katakan bahwa orangtua tetap yakin anaknya pintar dan juga sang juara bagi orangtuanya, sekalipun ia tak mendapatkan piala atau hadiah. Yakinkan pula bahwa jika si anak kelak sudah besar, dia pun bisa menjadi pemenang. Semangat dan optimisme orangtua terhadap anak perlu diekspresikan selama hal tersebut sesuai dengan perkembangan anak.Jika anak yang kalah ini menangis/merengek minta dapat hadiah/piala juga, orangtua perlu merangkul anak dan berkompromi tentang hal ini. Wujud komprominya bisa beragam tergantung kesepakatan orangtua dan anak. Misal, ”Adek enggak perlu menangis. Buat Ibu, Adek juga pemenang karena sudah berusaha. Jadi, nanti hadiahnya Ibu kasih di rumah saja, ya.”

KAPAN SIH ANAK SIAP IKUT LOMBA?

Yakni ketika usia anak 8 tahun ke atas, karena secara emosi dia mulai mengerti konsep kalah dan menang serta mulai bisa menerima kekalahan meski belum sepenuhnya. Sebaiknya, orangtua tetap memilihkan lomba-lomba yang bisa diikutinya secara berkelompok. Sesekali secara bertahap ikut lomba yang bersifat perseorangan. Bagaimana pun juga orangtua harus ingat bahwa orang dewasa pun belum tentu siap mental untuk menerima kekalahan, apalagi anak yang memungkinkan mengalami kekalahan itu dialaminya berulang-ulang. Jadi, perlakukan anak dengan wajar dan usahakan konsep serta harga diri mereka terbina dengan baik.

Tidak ada komentar: